Beranda Sekitar Kita Peringati WMBD, Biota Gelar Birdwatching dan Pendidikan Lingkungan

Peringati WMBD, Biota Gelar Birdwatching dan Pendidikan Lingkungan

6
0

130517-burung

Gorontalo, mimoza.tv – Tim pengamat burung (birdwatcher) Biodiversitas menemukan 19 spesies di Cagar Alam Panua dan 16 spesies di Paseda, Kabupaten Pohuwato, Jumat (12/5/2017). Pengamatan burung ini adalah bagian dari Peringatan World Migratory Bird Day (WMBD) di Gorontalo yang dilaksanakan Biodiversitas Gorontalo (Biota).

“Tim kami yang berasal dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam(BKSDA), Burung Indonesia, dan Masyarakat Mitra Polhut berhasil mendata 19 spesies burung di cagar alam Panua dan 16 spesies di Paseda,” kata Pantiati Cokrosuwiryo, staf biodiversitas Burung Indonesia.

Di CA Panua, 2 lokasi yang dipilih di kawasan peneluran maleo dan Danau Bayalo-Watingo. Kedua lokasi ini mudah dijangkau dan mewakili habitat hutan mangrove dengan substrat berpasir, diharapkan dapat mewakili keanekaragaman burung air, burung hutan dan burung dihabitat mangrove.
Pantiati merinci, spesies yang ditemukan antara lain Megapodius cumingii (Gosong Filipina), Gallus gallus (Ayam hutan merah), Ardea purpurea (Cangak merah), Haliastur Indus (Elang bondol), Turnix suscitator (Gemak loreng), Centropus bengalensis (Bubut alang-alang),  Rhampococcyx calyorhincus (Kadalan sulawesi), Cacomantis merulinus (Wiwik), Todiramphus chloris (cekakak sungai), Merops sp. (cirik-cirik), Coracina leucopygia (Kepudang-sungu tunggir-putih), Dicrurus hottentotus (srigunting), Hypothimis azurea (kehicap ranting), Corvus enca (gagak rumah), Macrocephalon Maleo (maleo), Hirundo tahitica (layang-layang), Dicaeum celebicum (cabai panggul kelabu), Anthreptes malacensis (Burung madu kelapa), dan Cyniris jugularis (madu sriganti).

Sementara itu Tatang Abdullah, Kepala Resort Panua menyampaikan bahwa Cagar Alam Panua sebagai salah satu kawasan konservasi memegang peran penting sebagai habitat beberapa satwa penting khususnya burung.

Misi utama CA Panua yaitu penyelamatan Maleo senkawor (Macrocephalon maleo). Upaya konservasi yang dilakukan diantaranya dengan kolaborasi bersama Burung Indonesia, Biodiversitas Gorontalo, dan pemerhati lingkungan lainnya. Salah satunya dengan perayaan WMBD 2017.

“Setidaknya ada 19 jenis burung seperti Gosong filipina (Megapodius cumingii), Haliastur indus (Elang bondol), Cekakak Sungai (Todiramphus chloris), dan lain-lain. Maleo senkawor juga tercatatat dalam pengamatan ini,” ujar Tatang Abdullah.

Sementara itu di Paseda tercatat 16 jenis burung, lokasi ini merupakan hutan mangrove yang mulai dikonversi menjadi tambak. Pengamatan dilakukan pada sore hari, semakin sore burung yang teramati semakin melimpah, hal ini mengindikasikan hutan mangrove Paseda yang tersisa masih menjadi tempat “pulang” bagi beberapa jenis burung.
Keenam belas spesies burung tersebut adalah Anas giberifons (Itik benjut), Ardea purpurea (Cangak merah), Egretta intermedia, Bubulcus ibis (kuntul kerbau), Butorides striata (kokokan laut), Streptopelia chinensis (tekukur), Hemiprocne longipennis )tepekong jambul), Todiramphus chloris (cekakak sungai), Gerygone sulphurea (remetuk laut), Arthamus leucorhyncus (kekep babi), Hirundo tahitica (layang-layang batu), Zosterops sp (kacamata), Anthreptes malacensis (madu kelapa), Cyniris jugularis (madu sriganti), Nectarinia sp. (madu) dan Lonchura sp. (bondol).

“Pohuwato, dengan potensi hutan mangrove dan habitat air payau memiliki potensi menjadi tempat persinggahan burung migran. Hanya saja memerlukan pengamatan yang lebih intensif pada masa-masa migrasi untuk memetakan perseberan burung migran di Kabupaten Pohuwato,” ujar Tatang.

Selain pengamatan burung, mereka juga mengunjungi SDN 13 Paguat untuk melakukan edukasi lingkungan, terutama keberadaan burung migran. Sebanyak 90 siswa dan 4 pengajar terlibat dalam kegiatan ini. Fachriany Hasan, penyuluh BKSDA menperkenalkan burung migran kepada para siswa mulai dari mengapa burung-burung melakukan migrasi serta jenis-jenis burung yang bermigrasi.

Sesuai dengan tema WMBD tahun ini,  Ririn juga menyampaikan bahwa dengan menyelamatkan lingkungan sekitar, kita dapat menyelamatkan burung migran karena masa depan  mereka adalah masa depan kita: “A Healthy Planet for Migratory Birds and People, Their Future is Our Future”. (rls)