Beranda Fokus Pilkada PILKADA DAN MITOS “INCUMBENT YANG SELALU GAGAL BERTARUNG”

PILKADA DAN MITOS “INCUMBENT YANG SELALU GAGAL BERTARUNG”

11
0

(DUA CALON PERNAH DICORET SAAT PILKADA, SIAPA BERIKUTNYA..??)

Oleh : Arlank Pakaya

Pemilihan Kepala Daerah di Kota Gorontalo tahun 2018 ini diprediksi akan berlangsung sengit. Terlebih majunya kembali wali kota periode 2008–2013, Adhan Dambea, yang berpasangan dengan pengusaha muda Hardi Saleh Hemeto dan Calon Incumbent yang saat ini masih menjabat, Marthen Taha, yang juga memilih orang muda sebagai pendampingnya, yakni Ryan Fahrichsan Kono yang juga anak dari Anggota DPR-RI Roem Kono.

Selain dua figur itu, publik juga perlu mewaspadai satu pendatang baru di Kota Gorontalo namun pemain lama dalam kancah politik Gorontalo, yakni mantan Bupati Kabupaten Boalemo Rum Pagau, yang memilih berpasangan dengan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Rusliyanto Monoarfa.

Kota Gorontalo merupakan satu dari 171 daerah yang menyelanggarakan Pilkada Serentak 2018 ini. Meski jumlah pemilih di Kota Gorontalo tidak sebanyak yang ada di Jawa, namun Pilwako kali ini menarik untuk disimak setiap tahapan yang berjalan.

Sejak tahapan Pilkada dimulai Agustus 2017 lalu, berbagai intrik dan strategi politik mulai dilakukan masing-masing tim dan pasangan calon, untuk meraih simpati pemilih. Mulai dari mengerahkan buzzer di Sosial Media, maupun kegiatan-kegiatan yang langsung turun ke rakyat lewat blusukan dan agenda-agenda politik lainnya.

Selain kegiatan politik yang menyentuh langsung hingga ke tingkatan grass root, agenda politik dalam mendapatkan dukungan koalisi partai politik juga mewarnai perjalanan tahapan pilkada kali ini. Hasilnya, pasangan incumbent Marthen Taha–Ryan Fahricsan Kono resmi diusung Partai Golkar, Demokrat dan PBB dengan total kursi di DPRD Kota Gorontalo sebanyak 9 kursi.

Pasangan Rum Pagau dan Rusliyanto Monoarfa diusung PDI-P (3 Kursi) dan PPP (3 kursi) dengan total dukungan sebanyak 6 Kursi di DPRD.

Sementara yang terakhir adalah pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota Adhan Dambea dan Hardi Saleh Hemeto, mantap diusung Partai Amanat Nasional (4 Kursi), Partai Hanura (3 Kursi) dan Partai Gerindra yang memiliki 2 kursi di DPRD Kota Gorontalo, sehingga total jumlah dukungan buat pasangan ini sebanyak 9 kursi.

Kembali ke soal “mitos” yang sering terjadi dalam setiap perhelatan, menarik untuk ditulis adalah “gagalnya calon petahana” dalam setiap perhelatan kepala daerah di Kota Gorontalo.

Contoh kasus yang pernah terjadi misalnya, majunya kembali Adhan Dambea pada saat Pilwako 2013 lalu, namun sehari menjelang pemilihan tepatnya 27 maret 2013, Adhan yang saat itu berpasangan dengan Inrawanto Hasan dibatalkan KPU Kota Gorontalo karena persoalan pencabutan legalisir Surat Keterangan Tamat milik Adhan.

Selain Adhan Dambea, satu calon yang pernah dicoret saat Pilkada adalah Rum Pagau. Rum dicoret dari bursa pencalonan karena melakukan mutasi pejabat dalam waktu yang dilarang oleh UU Pilkada.

Mitos ini kembali menguat pasca tidak terpenuhinya persyaratan administrasi milik satu bakal calon wakil wali kota, Ryan Fahricsan Kono, yang  juga terbentur pada persoalan legalisir.

Hingga batas waktu perbaikan administrasi sesuai tahapan Pilkada pada 20 Januari 2018 kemarin, Ryan Kono tidak memasukan copy ijazah SMA yang dilegalisir instansi berwenang ke KPU, sebagai bagian dari perbaikan berkas administrasi yang musti dan wajib dipenuhi.

“Dalam pasal 63 ayat (1) PKPU No. 3 Tahun 2017 tentang pencalonan, yang berbunyi “Dalam Hal hasil Verifikasi Bakal Pasangan Calon dinyatakan belum lengkap dan/atau tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 62 ayat (1) dan Bakal Pasangan Calon tidak melengkapi dokumen administrasi persyaratan Pasangan Calon sampai batas akhir masa perbaikan, Bakal Pasangan Calon dinyatakan tidak memenuhi Syarat (TMS)”.

Kejadian ini terus meyakinkan banyak orang, bahwa mitos “INCUMBENT yang SELALU GAGAL BERTARUNG” semakin menguat.

Jika Adhan Dambea dan Rum Pagau pernah merasakan bagaiman dicoret mendekati pertarungan. Lalu siapa berikutnya? Apakah mitos ini bisa dipatahkan pada Pilwako 2018 kali ini..?? kita tunggu keputusan KPU.

Pemimpin di Kota Gorontalo untuk periode 2019–2024 sudah ditentukan Allah SWT, tugas semua bakal pasangan calon adalah memaksimalkan ikhtiar atas itu. Semoga pemimpin yang terpilih nanti diberkahi ALLAH SWT. aminn (*/idj)

Foto : Istimewa