Beranda Nasional Walima Dan Desa Bongo Dalam Sejarah Perayaan Maulid Nabi Di Gorontalo

Walima Dan Desa Bongo Dalam Sejarah Perayaan Maulid Nabi Di Gorontalo

6
0

Gorontalo, mimoza.tv – Tradisi Walima di Gorontalo, senantiasa identik dengan perayaan Maulid Nabi.  Meski umumnya dilaksanakan di seluruh wilayah Provinsi Gorontalo, namun perayaan Maulid Nabi di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, jauh lebih menonjol dan meriah dari daerah lainnya di Gorontalo.

Dari kalangan penutur sejarah di Gorontalo mengungkapkan, sejak terbentuknya pemerintahan di Desa Bongo tahun 1750, saat itu perkembangan agama islam telah dibarengi dengan tingkat penghidupan ekonomi masyarakat yang cukup baik. Faktor inilah yang kemudian mendorong masyarakat pada setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW berupaya membuat Walima. Dan masyarakat meyakini, sejarah Walima ini bersamaan dengan sejarah Desa Bongo.

Pada mulanya Desa Bongo dikenal dengan nama Bubohu. Namun setelah melewati proses yang panjang, masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Desa Bongo. Waktu itu perayaan Maulid Nabi dirumah masing masing warga, karena saat itu belum ada masjid sebagai sarana ibadah. Perayaannya pun dalam bentuk dzikir selama satu malam, siangnya dilanjutkan dengan salawat dan doa kepada Nabi Muhammad SAW, serta memohon kepada Allah SWT , agar masyarakat Desa Bongo senantiasa dalam lindunganNya, dimudahkan dalalam rejeki dan dijauhkan dari segala bencana.

Pada masa Pemerintahan Hilalumo Amay, Tahun 1750 sampai dengan Tahun 1792, Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan secara sederhana tetapi tidak mengurangi hikmahnya dan dari sinilah awal mulanya perayaan walima atau Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Desa Bongo. Pada pertengahan abad ke-19, para ulama dan tokoh masyarakat dan pemerintahan pada saat itu mendirikan sebuah masjid sederhana sebagai tempat ibadah, masjid tersebut berfungsi juga sebagai tempat kegiatan lainnya seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Walima menjadi bagian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mulai dari perubahan setelah berdirinya masjid. Makanan yang seperti nasi, ikan, ayam goreng, kue (kukis) dan buah-buahan serta hasil pertanian diantar ketempat perayaan Maulid hanya dengan menggunakan dedaunan dan keranjang dan diatur sedemikian rupa sehingga kelihatan menarik dan bersih. Atas kesepakatan tokoh agama, tokoh adat dibuat wadah atau tempat yang diberi nama Lilingo. Lilingoartinya bulat bentuknya seperti loyang terbuat dari daun kelapa yang masih muda.

Tahun 1927 pada masa pemerintahan Hasan Pateda, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW semakin meriah. Lilingo yang bentuknya sederhana dilengkapi dengan kue (Kukis) dan telur masak ditusuk dengan bambu yang telah diraut dengan bersih kemudian ditancapkan di permukaan Lilingo diberi nama Toyopo (Tutu-tutupo Woyo-woyopo).

Pada tahun 1937 pada masa pemerintahan Buke Panai, pemerintah desa membuat toyopo yang besar dan diletakkan pada suatu tempat (wadah) yang terbuat dari bambu kuning. Wadah tersebut membentuk bujur sangkar menyerupai kaki meja dan dibawahnya ada lantai terbuat dari bambu dibelah kecil-kecil (Tototahu), kemudian dihiasi dengan bendera warna-warni serta tulisan-tulisan yang artinya erat sekali hubungannya dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Toyopo yang dihiasi tadi diberi nama Tolangga Lopuluto (Walima Lopuluto). Tolangga Lopuluto (Walima Lopuluto) diantar ke Masjid dengan iring-iringan dan Tarian Langga sampai dihalamam Masjid.

Dalam masyarakat Bongo pada peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW, ada keunikan tersendiri dan ini juga berlaku sama bagi masyarakat Gorontalo pada umumnya, hanya bagi masyarakat Bongo ini menjadi spesial dan selalu menjadi menarik untuk dibicarakan karena perlu kesiapan yang matang, mulai dari walimadikili dan tunuhio.

Merayakan Walima di desa bongo juga dikenal istilah mudik. Tapi istilah mudik bagi masyarakat Bongo Batudaa Pantai tidak dikenal di bulan puasa (Ramadhan) justru terjadi disetiap perayaan Maulid Nabi (memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW). Bagi masyarakat Bongo inilah peristiwa tahunan yang ditunggu-tunggu maka siapapun dia yang merasa ada hubungan kekerabatan dengan orang Bongo akan melaksanakan mudik ala orang Bongo.

Setiap tahunnya perayaan tradisi walima di Desa Bongo selalu di kemas dalam acara – acara spektakuler yang mendatangkan wisatawan domestik dari berbagai daerah tetangga di gorontalo. Tahun 2008 silam, tradisi ini menampilkan walima yang diisi dengan kue kolombengi (kue tradisional) mencapai sekitar 500.000 biji kue. Festival Walima ini di laksanakan selama tiga hari berturut-turut. Masyarakat gorontalo turut larut dalam perayaan besar dengan iringan Doa Zikir dan Parade Walima secara Kolosal menuju masjid. Di tahun 2005, walima dari Desa Bongo ini di tampilkan di istana Negara dihadapan duta–duta besar negara asing dan di Islamic Centre Jakarta.

Inilah keunikan tradisi walima di Desa Bongo, Memiliki sejarah yang panjang, Melahirkan banyak pembicaraan dan diakui masyarakat luas, dapat menjadi Sarana penunjang perekonomian dan potensi wisata budaya, aset yang tak ternilai, warisan yang selalu jadi kebanggaan serta suasana yang mengharukan yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat gorontalo.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan budaya masyarakat gorontalo ini yang lebih spektakuler, silahkan berkunjung ke Desa Bongo pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dari pusat ibu kota Provinsi Gorontalo bisa ditempuh dengan waktu +20 menit menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua, jalan yang berliku-liku dan melewati gunung di pesisir pantai Teluk Tomini membuat perjalanan setiap orang dipenuhi keindahan alam yang luar biasa. Desa ini berbatasan langsung dengan Kota Gorontalo yaitu Kelurahan Tanjung Kramat, Kota Selatan.

Adat Istiadat ini perlu dilestarikan dan dipromosikan sebagai wisata budaya provinsi gorontalo. Agar tradisi ini akan tetap bertahan dalam kondisi apapun dan menjadi aset utama dalam mengembangkan pariwisata, sehingga kelestariannya dapat menjadi bagian dari potensi ekonomi pedesaan.

Peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad S.A.W selalu menjadi momen yang paling dinanti-nantikan oleh Umat Muslim, khususnya di Gorontalo. Pelaksanaannya pun cukup unik dan jauh berbeda dengan perayaan di daerah-daerah lain. Di Gorontalo, peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W dilaksanakan semalam suntuk, yaitu dimulai setelah shalat Isya hingga pagi hari pukul 09.00 atau pukul 10.00.

Acara dimulai dengan “Dikili” (diambil dari kata “dzikir”) yaitu alunan zikir, shalawat, dan puji-pujian kepada Allah untuk sang Nabi yang “berulang tahun” hingga pagi menjelang siang. Selama semalam suntuk, para imam, ulama, dan pegawai syara’ yang ditunjuk, melantunkan Dikili. Tentu saja dengan sedikit istrahat untuk sekedar menyeruput secangkir teh atau kopi untuk menjaga agar tubuh tetap hangat dan suara tetap terdengar lantang. Di sinilah wujud pengagungan dan pengorbanan umat muslim di Gorontalo kepada sosok seorang Nabi yang menjadi suri teladan dalam setiap perilakunya. Seolah ingin menunjukkan betapa dalamnya rasa cinta mereka terhadap Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat yang tidak ikut melantunkan Dikili pun sebagian berusaha tetap terjaga untuk menyiapkan hidangan untuk para pelantun Dikili yang ingin beristirahat sejenak. Sepiring bubur ayam dan secangkir teh atau kopi serta beberapa macam penganan dirasa cukup untuk mengembalikan semangat yang mulai digerogoti rasa kantuk.

Esok harinya, usai prosesi Dikili, masyarakat di sekitar Mesjid yang merayakan Maulid berkumpul di halaman Mesjid untuk berbagi bahkan berebutan kue yang diisi dalam sebuah “tolangga”. Tolangga adalah sebuah wadah besar yang dihiasi dengan berbagai macam jenis kue dan makanan seperti nasi putih, nasi kuning, nasi bilindi, telur, dan lain-lain. Tolangga inipun ada yang khusus untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat, adapula yang khusus diberikan kepada para Imam, Ulama, maupun pegawai syara’, sebagai “imbalan” atas pengorbanan mereka melantunkan Dikili selama semalam suntuk. Di sinilah bagian yang paling unik dalam prosesi peringatan Maulid Nabi di Gorontalo, menyaksikan indahnya hasil kreatifitas masyarakat dalam menghias Tolangganya masing-masing. Apalagi menyaksikan hiruk-pikuknya pembagian (mungkin lebih tepat disebut perebutan) kue walimah (walimah berasal dari Bahasa Arab, artinya Perayaan. Sedangkan Kue Walimah sering diartikan sebagai kue yang menghiasi Tolangga).(luk)