Oleh: Dr. Funco Tanipu., ST., M.A
(Akademisi Universitas Negeri Gorontalo)
Nama lengkapnya Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo. Dia lahir tanggal 22 Maret 1984. Dalam sistem astrologi Tionghoa, ia bershio tikus kayu. Shio merupakan bagian dari budaya Tionghoa yang sudah ada sejak sekitar 2.500 tahun silam. Shio Tikus dengan unsur kayu menurut astrologi Tionghoa cenderung dianggap sebagai simbol semangat, kecerdasan, kehalusan, dan fleksibilitas.
Jika dihubungkan dengan konteks Indonesia saat ini, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo, adalah sebuah hal yang menarik dan mengejutkan. Kejutannya berupa semangat, kecerdasan, kehalusan dan fleksibilitas yang mampu ia terjemahkan dalam aktifitas yang sebetulnya ia tidak pernah tekuni, sepanjang karirnya sebagai seorang desainer, yakni aktifitas politik.
Mempertemukan Yang Tak Mungkin Bertemu
Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo adalah nama panjang dari Didit, putra tunggal Presiden Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto. Selain Puan Maharani, Didit memiliki ayah dan kakek yang menjabat sebagai Presiden.
Didit, begitu panggilan populernya, adalah lulusan dari Parsons School of Design di New York, US dan École Parsons à Paris di Paris. Didit belajar selama 4 tahun di kedua sekolah tersebut, selain ia juga mendalami seni melukis, fotografi, dan sejarah seni.
Didit menjadi pusat perhatian sejak bapaknya mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden tahun 2009 bersama Megawati Soekarnoputri, hingga bapaknya ikut lagi pada kontestasi tahun 2014 dan 2019 sebagai Calon Presiden, dan kini sejak tahun 2024, ia resmi menjadi putra dari Presiden Republik Indonesia. Setelah bapaknya dilantik, dirinya menggantikan peran ibunya Titiek Soeharto dalam mendampingi bapaknya pada setiap acara kepresidenan.
Hingga sampai pada penghujung bulan Ramadan 1446 Hijriah, tepatnya 22 Maret 2025, Didit merayakan ulang tahunnya yang ke – 41. Bagi sebagian besar orang, perayaan ulang tahun adalah hal yang normal dan lumrah, biasa saja. Tapi pada hal yang lumrah tersebut, ada peristiwa yang tidak pernah terjadi dalam 80 tahun sejarah politik Indonesia, sejak republik ini diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.
Apa yang menarik dari yang “sekedar” ulang tahun itu? Didit berhasil meyakinkan beberapa orang untuk hadir pada momen ulang tahunnya. Bukankah itu juga biasa, karena dia adalah anak seorang Presiden? Semua orang pasti berkeinginan hadir di momen tersebut.
Pangkal persoalannya tidak sesederhana itu, tapi menghadirkan seluruh anak mantan Presiden Indonesia sejak Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, hingga Jokowi adalah persoalan yang tidak mudah, bahkan tidak mungkin. Ketidakmungkinan itu disebabkan oleh ketidakharmonisan yang terjadi di antara mereka semua, baik di antara para mantan presiden tersebut maupun di kalangan anak-anak mantan presiden.
Contoh sederhana, Jokowi dan Megawati tak mungkin bisa bertemu dalam situasi seperti saat ini. SBY dan Megawati pun sama parahnya hubungan mereka. Prabowo dan Megawati yang pernah berduet di Pemilihan Presiden tahun 2009, sampai saat ini masih belum menemukan titik terang untuk bertemu. Jadi, untuk bertemu dalam “satu paket kegiatan” tidak mungkin. Istilah di Sulawesi ; “so baku simpan dari dulu”.
Tetapi, Didit yang tidak memiliki rekam jejak politik bahkan tidak pernah mendalami jurus politik untuk menaklukkan lawan, mampu mengumpulkan mereka semua. Bahkan, sekelas ayahnya Prabowo dengan jabatan Presiden pun belum mampu untuk bisa mempertemukan semuanya, dalam satu waktu dan satu tempat.
Beyond Politics
Didit mengumpulkan mereka semua dengan pendekatan seni. Ia adalah seorang desainer handal kelas internasional yang bisa memahami kebutuhan “pelanggan”. Ia paham betul bahwa isu politik ataupun semacam agenda kebangsaan, akan sulit menjadi isu sentral pertemuan penting tersebut. Didit mendalami sejarah seni, sehingga ia paham betul watak para elit negeri ini. Mereka akan sensitif jika pertemuan akan membahas isu politik layaknya perjumpaan politisi pada umumnya, siapa dapat apa dan bagaimana, sebab di antara mereka sendiri (politisi) tidak mungkin bertemu karena tarikan dan gesekan kepentingan yang terlalu tegang. Di antara anak-anak mantan presiden tersebut, semuanya adalah politisi, hanya Didit yang bukan bagian dari itu, sehingga Didit lebih netral dalam melakukan komunikasi, tanpa beban politik apapun, walaupun bapaknya adalah salah satu ketua umum partai politik terbesar di republik ini. Didit juga tidak menempatkan mereka bukan sebagai politisi, tapi sebagai bagian dari kalangan sosialita ataupun selebriti Indonesia.
Sebagai peraih penghargaan Silver Thimble 2006 untuk karya modenya saat masih berstatus sebagai pelajar, dan lulus pada tahun 2007, Didit paham bagaimana “mengukur” kain, bagaimana “menggambar” desain, hingga “menjahitnya” menjadi pakaian yang elegan. Didit menggunakan pendekatan seni fashion tersebut sebagai “template” dalam “menjahit pakaian kebersamaan” bagi mereka yang tidak mungkin bisa bersama. Ia juga tahu bagaimana melukis keindahan, ia juga paham mengenai fotografi. Pada ilmu desain fashion, melukis, dan fotografi, Didit, entah disadarinya, telah melakukan “beyond politics”.
Dugaan saya, layaknya desainer ternama sekaligus orang yang mendalami sejarah seni dan akrab bergaul dengan sosialitas kelas dunia, Didit menawarkan topik pembicaraan tentang seni, fashion, kuliner dan bahkan topik-topik yang sering dibahas dalam siaran infotainment. Walaupun terkesan biasa, tetapi momentum “pertemuan yang tidak mungkin” tersebut pada akhirnya terwujud hingga ada foto berssejarah antara Guruh Soekarno Putra (putra Presiden Soekarno), Titiek Soeharto (putri Presiden Soeharto), Ilham Habibie (putra Presiden BJ Habibie, Yenny Wahid (putri Presiden Gus Dur), Puan Maharani (putri Presiden Megawati Soekarnoputri), AHY (putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang (putra Presiden Joko Widodo) bersama Didit yang sedang merayakan ulang tahun. Setelah itu, barulah berfoto bersama Presiden Prabowo Subianto.
Tentu saja, dengan keberhasilannya yang bisa mengumpulkan dan mempertemukan semua anak mantan Presiden dalam satu tempat dan satu waktu, dengan riang gembira, telah menjadi starting point Didit untuk melangkah kepada kejutan berikutnya.
Didit, yang masuk sebagai salah satu perancang busana dalam Official Calendar Paris Fashion Week, tidak mungkin akan berhenti pada satu corak desain saja, ia akan bisa “survive” dan meraih pelanggan kelas atas bahkan menanjak karirnya jika ada inovasi terbaru dalam desain fashion yang ia kreasi. Hal itu pulalah yang ia “terjemahkan” dalam inovasi “desain” berikutnya pada saat momen Idul Fitri dengan mengunjungi mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan terbang hingga ke Solo untuk berlebaran bersama mantan Presiden Joko Widodo. Mereka semua, para mantan presiden tersebut, tampak bersuka cita menyambut kedatangan Didit.
Pertanyaannya, mengapa hal tersebut tidak dilakukan oleh anak-anak mantan Presiden lainnya, saat ayah atau ibunya menjabat sebagai Presiden? Sebab, modal label anak Presiden pun tidak bisa dengan serta merta dan seenaknya mendatangi mantan-mantan Presiden lainnya, walaupun alasannya adalah silaturahmi. Ketidakmungkinan itu berasal dari pendekatan masing-masing anak presiden sebelumnya yang masih menggunakan template “strategi politik” dengan topik membahas kepentingan politik, maka hal tersebut akan tidak berlaku bagi para mantan presiden yang memang sudah renggang dan tegang hingga sulit dipertemukan. Didit pada pertemuan dengan para mantan presiden itu, menempatkan mereka sebagai orang tua yang pernah memiliki jasa bagi negara dan bangsa, terlihat dari cara ia berdiri dalam foto dan bagaimana ia berpakaian. Didit mampu menempatkan dirinya dalam suasana politik yang tegang dengan pola komunikasi yang melampaui pola yang sering digunakan oleh politisi pada umumnya.
Sebagai perancang busana mantan ibu negara Prancis, Carla Bruni Sarkozy, yang dikenakannya pada Paris Couture Week 2022, Didit paham diluar kepala tentang sejarah seni di Eropa hingga tahu betul bagaimana berkomunikasi dengan elit politik di Eropa hingga mereka bisa menyatu bukan karena isu politik dan kepentingan, tapi pada hal-hal yang sederhana ; fashion, kuliner, dan hal-hal yang berjarak dengan politik. Pada pokoknya, seperti tukang jahit pada umumnya, yang penting pelanggan puas dengan hasil kerjanya, dan pelanggan setiap saat menyerahkan semua urusan fashion kepada si tukang jahit tersebut, bahkan bisa berlangganan seumur hidup jika baju pas dan nyaman di badan, apalagi dengan corak desain yang dipuji oleh banyak orang.
Oase Politik Nasional
Publik pun mengapresiasi perjumpaan-perjumpaan yang didesain Didit, karena publik juga sebenarnya telah jenuh dengan segala hiruk pikuk Pilpres, Pilkada dan segala pertunjukan tokoh-tokoh politik. Termasuk pertujukan para selebriti serta content creator yang diwadahi secara politik untuk menarik simpati publik, yang terus terang tidak lagi menggairahkan dan tidak mampu mencairkan suasana tegang seperti saat ini. Apalagi yang terlihat di media sosial adalah perilaku saling hina hingga mengarah pada saling serang karakter individu.
Pada titik jenuh itu, publik menganggap Didit sebagai oase baru yang dapat membasahi “keringnya” suasana politik nasional walaupun Didit bukanlah politisi. Didit adalah “perasan” dari kebutuhan publik tentang sosok yang kalem dan smiling man seperti kakeknya, tetapi visioner, gesit dan gercep seperti bapaknya, namun teduh periang seperti ibunya.
Pengalaman Didit Hediprasetyo dalam mendesain “identitas juang” jersey klub sepak bola Italia, Como 1907 adalah pengalaman berharga yang bisa ia terapkan dalam merancang persatuan elit Indonesia dalam satu semangat juang.
Pertanyaan berikutnya, “desain” seperti apa yang akan ditampilkan oleh Didit dengan karakter shio tikus yang ia miliki? Lalu bagaimana ia akan menyambungkan “desain seni” yang ia rancang menuju desain politik kebangsaan yang lebih elegan, berwibawa dan sejuk? Ataukah kemudian, usia karir Didit sebagai “desainer baju persatuan” ini akan dihabisi oleh para elit politik yang memang tidak menyenangi adanya kesejukan politik dan kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara.
Kita akan tunggu kelanjutan dari “inovasi-inovasi desain” dari Didit Hediprasetyo yang tengah berjuang untuk “persatuan Indonesia” sebagaimana di dalam dirinya mengalir darah juang Raden Tumenggung Banyakwide atau yang dikenal dengan Panglima Banyakwide, seorang pejuang yang turut bersama-sama Pangeran Diponegoro dalam melawan Belanda pada Perang Jawa di kurun waktu 1825-1930.