Gorontalo, mimoza.tv – Di saat sebagian masyarakat masih berpolemik soal minimnya produktivitas di luar, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo justru memberi contoh nyata: dari balik jeruji besi pun, kerja keras bisa menumbuhkan hasil.
Puluhan warga binaan lembaga itu baru saja memanen sayuran segar dari lahan pertanian yang mereka kelola sendiri. Kangkung, kacang panjang, terong, sawi hingga cabai tumbuh subur di tanah yang semula gersang, kini hijau oleh keringat dan ketekunan.
Kalapas Gorontalo Sulistyo Wibowo mengatakan, kegiatan panen ini bukan sekadar rutinitas pembinaan, tapi bukti bahwa semangat produktivitas dan kemandirian bisa tumbuh bahkan di ruang terbatas.
“Kami ingin setiap jengkal tanah di sini memberi manfaat. Panen ini bukan soal angka hasil, tapi bukti bahwa warga binaan bisa mandiri, disiplin, dan berdaya,” ujar Sulistyo, Senin (13/10/2025).
Ia menegaskan, Lapas Gorontalo tidak hanya fokus pada aspek keamanan, tetapi juga pembinaan karakter dan keterampilan warga binaan sebagai bekal saat mereka kembali ke masyarakat.
Sementara itu, Kasi Kegiatan Kerja Nelman menambahkan, hasil panen kali ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dapur lapas, tapi juga menjadi sumber tambahan bagi program pembinaan.
“Hasilnya membantu menekan biaya operasional dapur sekaligus mengajarkan warga binaan pentingnya tanggung jawab dan kerja sama,” jelasnya.
Langkah Lapas Gorontalo ini seolah menjadi tamparan lembut bagi sebagian pihak di luar tembok penjara: bahwa produktivitas tidak ditentukan oleh kebebasan, tapi oleh kemauan.
Dan mungkin, di tengah krisis ketahanan pangan yang kerap jadi wacana nasional, apa yang dilakukan warga binaan justru menjadi pelajaran berharga—bahwa kemandirian bisa tumbuh dari tangan-tangan yang dulunya salah arah, tapi kini memilih menanam harapan. (rls/luk)



