Gorontalo, mimoza.tv – Aktivitas penerbangan di Bandara Panua, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, menunjukkan tren penurunan signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, dalam rentang Oktober 2024 hingga November 2025, frekuensi pesawat datang dan berangkat di bandara tersebut kian terbatas, bahkan beberapa bulan tercatat nihil penerbangan.
Berdasarkan data pergerakan pesawat yang dirilis BPS, Bandara Panua sempat mencatat belasan penerbangan pada akhir 2024. Namun memasuki awal 2025, aktivitas penerbangan mengalami penurunan tajam. Pada Januari dan Februari 2025, misalnya, tidak tercatat adanya pesawat datang maupun berangkat.
Meski sempat ada peningkatan terbatas pada Maret hingga Juli 2025, tren tersebut tidak bertahan lama. Sejak Agustus hingga November 2025, data kembali menunjukkan angka nol penerbangan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa bandara yang dibangun pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo tersebut belum mampu menjaga keberlanjutan operasional penerbangan secara konsisten. Padahal, Bandara Panua sejak awal diproyeksikan sebagai bandara perintis untuk membuka konektivitas wilayah barat Provinsi Gorontalo, khususnya Kabupaten Pohuwato.
Sejumlah pengamat transportasi menilai, sepinya aktivitas bandara perintis tidak selalu disebabkan oleh satu faktor tunggal. Selain persoalan lokasi, terdapat berbagai variabel yang kerap memengaruhi keberlanjutan penerbangan di bandara-bandara kecil.
Di antaranya adalah keterbatasan daya beli masyarakat, pola mobilitas yang belum menjadikan transportasi udara sebagai kebutuhan utama, serta jadwal penerbangan yang tidak selalu konsisten.
Faktor lain yang juga kerap memengaruhi adalah kebijakan rute perintis itu sendiri. Rute dengan subsidi umumnya ditetapkan dalam jangka waktu tertentu dan sangat bergantung pada evaluasi tahunan. Ketika tingkat keterisian penumpang rendah dan risiko operasional tinggi, maskapai cenderung berhati-hati untuk melanjutkan layanan, terutama pada rute dengan margin terbatas.
Di sisi lain, keberadaan bandara yang tidak terintegrasi dengan ekosistem ekonomi lokal juga menjadi tantangan. Tanpa dukungan aktivitas logistik, pariwisata yang siap jual, atau pusat pertumbuhan ekonomi di sekitarnya, bandara perintis kerap berdiri sendiri dan sulit membangun permintaan penerbangan yang stabil.
Dalam kondisi seperti itu, pergerakan penumpang semata sering kali tidak cukup untuk menopang keberlanjutan rute.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian dalam dunia penerbangan. Bandara Panua diketahui pernah mengalami insiden penerbangan pada periode sebelumnya. Dalam praktik transportasi udara, insiden keselamatan—meski tidak selalu berdampak pada status administratif bandara—dapat memengaruhi persepsi publik serta pertimbangan operasional maskapai, khususnya pada bandara dengan frekuensi penerbangan terbatas.
Data BPS sendiri hanya mencerminkan kondisi statistik pergerakan penerbangan, tanpa menilai atau menyimpulkan kebijakan yang melatarbelakanginya.
Meski demikian, tren yang tercatat dalam data tersebut menunjukkan bahwa tantangan bandara perintis tidak semata terletak pada pembangunan fisik. Keberlanjutan operasional penerbangan sangat bergantung pada kesiapan ekosistem, kebutuhan riil masyarakat, serta konsistensi layanan.
Tanpa itu, bandara berisiko menjadi infrastruktur yang hadir secara fisik, namun minim aktivitas secara fungsi.
Penulis: Lukman.



