Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, banyak dari kita diperkenalkan dengan nama Vasco da Gama sebagai tokoh besar penjelajahan laut. Guru sejarah menyebutnya sebagai pelaut Portugis yang berjasa membuka jalur laut Eropa menuju India. Dalam buku pelajaran, ia hadir sebagai simbol keberanian, kecerdasan, dan kemajuan peradaban Barat.
Nama itu melekat sebagai pahlawan. Hampir tak pernah dipertanyakan.
Namun sejarah, bila dibaca lebih dalam, tidak sesederhana ringkasan di buku sekolah.
Di balik narasi heroik “penemuan jalur dagang” tersebut, terdapat catatan kelam yang jarang disampaikan secara terbuka: Vasco da Gama pernah melakukan tindakan kekerasan brutal terhadap warga sipil Muslim, termasuk pembantaian terhadap ratusan penumpang kapal yang di dalamnya terdapat jamaah haji, perempuan, dan anak-anak.
Peristiwa itu terjadi pada pelayaran kedua Vasco da Gama ke India pada tahun 1502–1503. Dalam ekspedisi tersebut, ia menangkap sebuah kapal dagang Muslim yang sedang berlayar di Samudra Hindia. Kapal itu membawa ratusan penumpang—sebagian besar bukan prajurit, melainkan pedagang dan jamaah yang baru atau akan menunaikan ibadah haji.
Alih-alih menahan atau menukar mereka dengan tebusan, Vasco da Gama memerintahkan kapal tersebut dibakar di tengah laut, dengan para penumpangnya masih berada di dalamnya. Catatan sejarah menyebutkan bahwa permohonan ampun dan tawaran tebusan sempat disampaikan, namun ditolak. Api menjadi penutup hidup ratusan manusia tak bersenjata.
Peristiwa ini bukan mitos atau cerita emosional sepihak. Sejumlah sejarawan Barat mencatatnya sebagai salah satu tindakan paling kejam dalam sejarah awal imperialisme Eropa. Bahkan oleh standar peperangan abad ke-16, tindakan tersebut dipandang melampaui batas.
Kekerasan Vasco da Gama tidak berhenti di laut. Setibanya di pesisir India, ia melakukan pemboman terhadap kota Calicut—pusat perdagangan penting yang saat itu banyak dihuni komunitas Muslim. Tawanan diperlakukan dengan kejam: dipotong tangan, telinga, dan anggota tubuh lainnya. Potongan tubuh itu kemudian dikirim sebagai pesan teror kepada penguasa setempat.
Semua dilakukan bukan dalam konteks perang terbuka antar-armada, melainkan sebagai strategi intimidasi untuk mematahkan dominasi perdagangan Muslim di Samudra Hindia dan membuka jalan monopoli Portugis.
Lalu muncul pertanyaan yang patut diajukan hari ini: mengapa sosok dengan rekam jejak seperti ini tetap dikenang sebagai pahlawan?
Jawabannya terletak pada cara sejarah ditulis. Bagi Portugal dan sebagian Eropa, Vasco da Gama adalah simbol kejayaan maritim dan awal kebangkitan ekonomi global. Keberhasilannya membuka jalur rempah dianggap pencapaian besar, sementara korban di sepanjang jalur itu kerap dikesampingkan atau sekadar menjadi catatan kaki.
Ini bukan soal menyalahkan masa lalu dengan kacamata hari ini. Ini soal kejujuran sejarah. Mengingat kembali sisi gelap Vasco da Gama bukanlah bentuk sinisme terhadap pendidikan atau kebencian terhadap bangsa tertentu, melainkan upaya melengkapi narasi yang selama ini timpang.
Pahlawan sejati tidak hanya diukur dari keberhasilannya mencapai tujuan, tetapi juga dari cara ia memperlakukan sesama manusia. Sejarah yang dewasa tidak menutup-nutupi luka, tetapi mengakuinya agar tidak terulang.
Mengajarkan Vasco da Gama hanya sebagai penjelajah hebat tanpa menyebut kebrutalannya, sama saja mewariskan kisah yang belum selesai.
Dan generasi hari ini berhak menerima sejarah yang utuh—bukan yang telah disterilkan demi kenyamanan.
Karena sejarah bukan sekadar cerita kejayaan, tetapi juga cermin nurani kemanusiaan.



