Gorontalo, mimoza.tv – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat inflasi 0,28 persen (month to month) pada Januari 2026. Angka ini dipengaruhi kuat oleh kenaikan harga komoditas ikan, di tengah turunnya harga sejumlah bahan pangan strategis seperti cabai rawit dan bawang merah.
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menyampaikan bahwa struktur konsumsi masyarakat Gorontalo yang didominasi ikan membuat fluktuasi harga komoditas laut berdampak langsung terhadap inflasi daerah.
“Ikan adalah komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Gorontalo. Ketika terjadi peningkatan harga, pengaruhnya langsung terasa pada inflasi secara umum,” ujar Dwi dalam rilis BPS, Senin (2/2/2026).
BPS mencatat, meski sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan harga dan mendorong deflasi, kenaikan harga ikan dengan nilai konsumsi yang lebih besar membuat inflasi Gorontalo tetap berada di zona positif.
“Cabai rawit dan bawang merah memang turun dan menjadi penyumbang deflasi tertinggi. Tapi karena nilai ikan lebih tinggi, inflasi Gorontalo masih tercatat 0,28 persen,” jelasnya.
10 Komoditas Penyumbang Inflasi Gorontalo (m-to-m Januari 2026) Berdasarkan rilis BPS Provinsi Gorontalo:
Ikan selar / ikan tude
Ikan layang / ikan benggol
Emas perhiasan
Ikan cakalang / ikan sisik
Ikan mujair
Cumi-cumi
Ikan teri
Tomat
Kangkung
Daun bawang
Komoditas-komoditas tersebut terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Januari 2026.
10 Komoditas Penyumbang Deflasi Gorontalo Sementara itu, BPS mencatat sejumlah komoditas mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi:
Cabai rawit
Bawang merah
Daging ayam ras
Minyak goreng
Beras
Sandal anak
Kopi bubuk
Sandal karet pria
Angkutan udara
Baju kaos tanpa kerah / T-shirt pria
Menurut Dwi, penurunan harga cabai rawit menjadi faktor deflasi paling dominan karena tingkat konsumsinya yang tinggi di Gorontalo.
“Cabai merupakan komoditas yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat Gorontalo dan penurunan harganya paling tinggi di Januari 2026,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi inflasi Januari 2026 mencerminkan tarik-menarik harga antar komoditas, bukan tekanan inflasi yang bersifat struktural.
“Ketika ikan naik dan cabai turun, itu saling menahan. Sehingga inflasinya masih terjaga dan relatif stabil,” pungkas Dwi.
Penulis: Lukman.



