Gorontalo, mimoza.tv — Ancaman Iran untuk memblokade Selat Hormuz bukan sekadar retorika geopolitik. Jika benar-benar terjadi, dampaknya bukan hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi berpotensi menjadi krisis energi dan ekonomi global paling serius dalam satu dekade terakhir.
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit namun vital. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk melewati jalur ini setiap hari. Artinya, setiap gangguan—apalagi penutupan total—akan langsung memukul pasar energi dunia.
Harga Minyak Meledak, Inflasi Mengintai
Langkah blokade akan segera direspons pasar dengan lonjakan harga minyak mentah global. Para analis memperkirakan harga minyak bisa menembus level psikologis baru, memicu efek domino pada harga BBM, listrik, dan biaya transportasi.
Kondisi ini berisiko memperparah inflasi global yang belum sepenuhnya pulih. Negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, Korea Selatan, India, hingga negara-negara Eropa akan berada di garis depan dampak ekonomi tersebut.
Tak hanya energi, rantai pasok global ikut terguncang. Biaya pengiriman meningkat, asuransi pelayaran melonjak, dan distribusi barang strategis terhambat. Dalam skenario terburuk, dunia bisa menghadapi perlambatan ekonomi hingga resesi regional.
Risiko Militer: Dari Ancaman ke Konfrontasi
Blokade Selat Hormuz hampir pasti dipersepsikan sebagai tindakan agresi langsung terhadap kepentingan internasional. Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya selama ini memandang Selat Hormuz sebagai jalur bebas navigasi internasional yang tidak boleh diganggu.
Respons militer pun menjadi hampir tak terelakkan. Peningkatan kehadiran armada laut, operasi pengamanan jalur pelayaran, hingga potensi bentrokan bersenjata terbuka menjadi skenario yang sulit dihindari jika eskalasi terus berlanjut.
Dengan kata lain, blokade Hormuz adalah pintu masuk menuju konflik berskala lebih luas, bukan hanya konflik Iran versus Barat, tetapi juga menyentuh kepentingan negara-negara besar Asia yang bergantung pada energi Teluk.
Ironi Strategis: Iran Ikut Terjebak
Namun, langkah ini juga menyimpan paradoks besar bagi Iran sendiri. Selat Hormuz adalah jalur utama ekspor minyak Iran, terutama ke China. Menutup jalur tersebut berarti Iran ikut memotong nadi ekonominya sendiri, di tengah tekanan sanksi dan kondisi ekonomi domestik yang rapuh.
Inilah sebabnya banyak pengamat menilai ancaman blokade lebih sering digunakan sebagai alat tekanan politik dan psikologis, bukan opsi strategis yang benar-benar diinginkan untuk direalisasikan.
Pelajaran Global: Dunia Terlalu Bergantung
Krisis Selat Hormuz, jika terjadi, akan membuka satu fakta pahit: dunia masih terlalu bergantung pada satu jalur sempit untuk energi global. Ketergantungan ini menjadikan ekonomi internasional sangat rentan terhadap konflik regional.
Bagi publik global, isu ini bukan sekadar berita luar negeri. Ia menyentuh langsung harga kebutuhan pokok, stabilitas ekonomi, dan keamanan internasional. Selat Hormuz bukan hanya persoalan Iran dan Timur Tengah—ia adalah urat nadi dunia.
Dan ketika urat nadi itu terancam, seluruh sistem global ikut bergetar.
Penulis: Lukman.
Dari berbagai sumber.



