Jakarta, mimoza.tv – Ketua Umum (Ketum) Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, menegaskan bahwa industri media nasional membutuhkan arah baru di tengah disrupsi kecerdasan artifisial (AI) dan dominasi platform digital global.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi bertajuk Navigating AI in Newsroom: Research Insights and Media Business Sustainability yang digelar di Jakarta, Jumat (20/2/2026), bertempat di Morrissey Hotel Jakarta.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara AMSI, BBC Media Action, serta Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO), dan didukung oleh Kabar Makassar serta Konde.co.
Paparan Riset Global BBC Media Action
Diskusi ini juga memuat paparan hasil riset terbaru BBC Media Action mengenai tantangan penggunaan AI dalam dunia media secara global, termasuk di Indonesia.
Riset tersebut menyoroti sejumlah isu krusial:
- Ketimpangan kapasitas antara media besar dan kecil dalam mengadopsi teknologi AI.
- Risiko erosi kepercayaan publik akibat konten otomatis yang tidak terverifikasi.
- Tantangan etika, termasuk transparansi penggunaan AI dalam produksi berita.
- Ancaman ketergantungan terhadap infrastruktur teknologi milik platform global.
Temuan riset menunjukkan bahwa banyak redaksi mulai memanfaatkan AI untuk otomasi transkrip, peringkasan dokumen, analisis data, hingga personalisasi konten. Namun, tanpa tata kelola yang jelas, penggunaan AI berpotensi mengaburkan batas antara kerja jurnalistik dan produksi konten berbasis algoritma.
Regulasi dan Posisi Tawar
Dalam sambutannya, Wahyu menegaskan terdapat dua pekerjaan besar yang harus dilakukan secara simultan: pembenahan di level ekosistem dan penguatan di level perusahaan media.
Dari sisi ekosistem, ia menekankan pentingnya regulasi yang lebih progresif dan berpihak pada keberlanjutan jurnalisme.
“Konten jurnalistik harus terlindungi. Kita butuh regulasi yang memberi posisi tawar lebih kuat ketika bernegosiasi dengan platform digital,” ujarnya.
Ia menyebut opsi penguatan dapat dilakukan melalui revisi undang-undang hak cipta, peningkatan status aturan ke level peraturan pemerintah, atau kebijakan lain yang memastikan distribusi nilai ekonomi yang lebih adil bagi publisher domestik.
Wahyu juga menyinggung kabar terkait kesepakatan perdagangan internasional yang disebut membatasi ruang pemerintah Indonesia untuk membuat regulasi yang mewajibkan platform digital asal Amerika Serikat membayar publisher lokal. Ia berharap ada penjelasan resmi pemerintah terkait implikasi kebijakan tersebut terhadap masa depan industri media nasional.
Kenali Aset dan Audiens
Di sisi hilir, Wahyu menilai perusahaan media tak bisa hanya bergantung pada dorongan regulasi. Publisher harus melakukan pembenahan internal, terutama dalam memahami data dan kekuatan unik yang mereka miliki.
Ia menekankan pentingnya mengenali diferensiasi konten, persoalan publik yang ingin dipecahkan melalui fungsi jurnalistik, serta profil audiens secara lebih presisi.
“Siapa sebenarnya pembaca kita? Siapa pelanggan kita? Dengan memahami aset dan audiens, publisher bisa menemukan model bisnis baru yang lebih relevan,” katanya.
Hadirkan Beragam Narasumber
Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang industri dan akademisi, antara lain:
- Rosiana Eko (Research Manager BBC Media Action)
- Olle Zachrison (BBC’s Senior News Editor for AI)
- Arsisto Ambiyo (Lecturer RMIT University)
- Neil Tobing (Chair of DigiBroadcast)
- Upi Asmaradhana (CEO Kabar Grup Indonesia)
- Luviana Ariyanti (Pemimpin Redaksi Konde.co)
Kehadiran para pembicara tersebut memperkaya perspektif, mulai dari aspek riset, praktik newsroom global, tata kelola AI, hingga strategi keberlanjutan bisnis media di era digital.
Kompleks, Tapi Masih Ada Harapan
Wahyu mengakui bahwa tantangan yang dihadapi industri media saat ini sangat kompleks. Namun ia tetap optimistis jika pelaku industri mampu bergerak secara kolektif.
“PR-nya banyak dan kompleks. Tapi kalau kita melakukannya bersama-sama, solid, dan sebagai aksi kolektif, saya kira kita masih punya harapan,” tegasnya.
Diskusi ini menjadi refleksi penting bahwa masa depan ruang redaksi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi, tetapi juga oleh keberanian industri media memperjuangkan regulasi yang adil, etika penggunaan AI, serta model bisnis yang berkelanjutan.
Penulis: Lukman.



