GORONTALO, mimoza.tv – Ramadan kembali mengetuk sisi kemanusiaan, bahkan di balik jeruji. Sebanyak 57 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo menerima zakat fitrah yang disalurkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Gorontalo, Rabu (18/3/2026).
Di ruang yang sering diasosiasikan dengan hukuman, momentum ini justru menghadirkan nuansa berbeda: kepedulian.
Penyaluran zakat ini menjadi bagian dari sinergi antara pihak Lapas dan Baznas Kota Gorontalo. Bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi upaya menghadirkan rasa “dianggap” bagi mereka yang tengah menjalani masa pembinaan.
Pelaksana Tugas Kepala Lapas Gorontalo, Sahduriman, menegaskan bahwa bantuan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan dasar warga binaan, sekaligus menjadi suntikan semangat.
“Kami ingin mereka merasakan bahwa masih ada perhatian. Dari situ, tumbuh dorongan untuk memperbaiki diri dan menjalani proses pembinaan dengan lebih baik,” ujarnya.
Namun, yang lebih penting dari sekadar bantuan materi, kata Sahduriman, adalah pesan yang dibawanya.
“Ini bukan hanya soal zakat. Ini tentang bagaimana nilai kepedulian, kebersamaan, dan keimanan tetap hidup di balik tembok Lapas,” tambahnya.
Di sisi lain, Wakil Ketua I Baznas Kota Gorontalo, Amin Husain Dima, membuka sedikit “dapur” mekanisme pengumpulan zakat tersebut. Ia menjelaskan bahwa prosesnya berjalan terstruktur melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Lapas yang dikelola oleh Badan Takmir Masjid At-Taubah.
Zakat yang terkumpul kemudian disetor ke Baznas untuk disalurkan kembali kepada warga binaan yang berhak sebagai mustahik.
“Ini bukan hanya distribusi. Ini juga edukasi. Kami ingin menanamkan bahwa siapa pun, termasuk warga binaan, tetap punya peran dalam berbagi,” jelas Amin.
Di titik ini, Lapas tidak lagi semata menjadi ruang penghukuman, melainkan ruang pembelajaran—tentang kesalahan, tentang penyesalan, dan tentang kemungkinan untuk berubah.
Ramadan, dalam konteks ini, bekerja sebagai jembatan. Ia menghubungkan empati dengan harapan, mengikat kembali rasa kemanusiaan yang mungkin sempat tercerabut.
Dan di balik sebutan “bang napi” yang kerap dilabelkan, mereka tetap manusia—yang sedang mencari jalan pulang. (rls/luk)



