GORONTALO, mimoza.tv — Kabar baik datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Gorontalo pada Februari 2026 tercatat melonjak signifikan, menempatkan daerah ini sebagai yang tertinggi di kawasan timur Indonesia.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), NTP Gorontalo pada Februari 2026 mencapai angka 121,85 atau naik 5,05 persen dibanding Januari 2026 yang berada di level 115,99.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dr. Wathekhi, S.Si, menyebut capaian ini bukan sekadar angka statistik, tetapi menjadi sinyal positif bagi kesejahteraan petani.
“Kenaikan NTP ini menunjukkan bahwa secara umum daya beli petani di Gorontalo mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya dalam keterangan awal Maret.
Yang menarik, dari 14 provinsi di kawasan timur Indonesia, hanya enam daerah yang mencatatkan kenaikan NTP. Sisanya, delapan provinsi justru mengalami penurunan. Gorontalo tampil sebagai yang paling menonjol dengan kenaikan tertinggi 5,05 persen.
Sebaliknya, penurunan terdalam terjadi di Sulawesi Barat yang anjlok hingga 3,75 persen—sebuah kontras yang menegaskan posisi Gorontalo sebagai outlier positif di tengah tren yang cenderung fluktuatif.
Tak hanya NTP, dinamika ekonomi rumah tangga di perdesaan juga ikut bergerak. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Gorontalo pada Februari 2026 tercatat naik 1,98 persen. Lonjakan tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 3,07 persen.
Namun di balik kabar baik ini, ada catatan yang tak boleh diabaikan. Kenaikan IKRT juga berarti meningkatnya pengeluaran masyarakat, terutama pada kebutuhan dasar.
“Kenaikan indeks konsumsi ini perlu dibaca hati-hati. Di satu sisi menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat, tapi di sisi lain juga mencerminkan adanya tekanan harga pada komoditas konsumsi,” jelas Wathekhi.
Data ini membuka dua sisi cerita: petani Gorontalo memang sedang menikmati perbaikan nilai tukar, tetapi tantangan inflasi di sektor konsumsi tetap mengintai.
Dalam konteks kebijakan, kondisi ini menuntut respons yang lebih presisi. Jika tidak diantisipasi, kenaikan biaya hidup bisa perlahan menggerus keuntungan yang baru saja dirasakan petani.
Di titik ini, Gorontalo sedang berdiri di persimpangan: antara momentum kebangkitan sektor pertanian, dan potensi tekanan ekonomi rumah tangga.
Publik tentu berharap, angka-angka ini tidak berhenti sebagai laporan statistik, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan yang menjaga keseimbangan—antara produksi, harga, dan kesejahteraan petani.
Penulis: Lukman.



