Gorontalo, mimoza.tv — Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Maret 2026 membuka satu fakta yang sulit diabaikan: industri perhotelan di Gorontalo belum benar-benar pulih secara kualitas, meski mobilitas wisatawan masih terjaga.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Januari 2026 tercatat hanya 28,75 persen. Angka ini turun tajam 14 poin dibandingkan Desember 2025 yang berada di level 42,75 persen. Bahkan secara tahunan, terjadi penurunan 3,84 poin dibandingkan Januari tahun sebelumnya.
Penurunan ini bukan sekadar koreksi musiman pasca libur akhir tahun. Lebih dari itu, ini memberi sinyal bahwa fondasi pariwisata Gorontalo masih rapuh—tergantung momentum, belum bertumpu pada daya tarik yang berkelanjutan.
Di sisi lain, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) pada Januari 2026 tercatat 473.246 perjalanan, hanya turun tipis 1,95 persen dibandingkan Desember 2025.
Namun di sinilah letak persoalannya.
Jumlah orang yang datang tidak turun drastis, tetapi tingkat hunian hotel justru merosot tajam. Ini mengindikasikan bahwa kehadiran wisatawan tidak otomatis berbanding lurus dengan tingkat okupansi hotel, khususnya hotel berbintang.
Fenomena ini mengarah pada satu kesimpulan yang lebih mendasar: wisatawan datang ke Gorontalo, tetapi tidak tinggal lama.
Hal itu diperkuat dengan data rata-rata lama menginap. Pada Januari 2026, tamu hotel berbintang hanya menginap 1,31 malam, turun dari bulan sebelumnya. Sementara pada hotel nonbintang, lama menginap stagnan di angka 1,10 malam.
Durasi ini mencerminkan pola kunjungan yang singkat—bahkan cenderung transit.
Dalam perspektif ekonomi pariwisata, lama tinggal menjadi indikator penting. Semakin singkat durasi kunjungan, semakin kecil pula dampak ekonomi yang ditinggalkan, baik untuk sektor perhotelan, kuliner, maupun usaha pendukung lainnya.
Kondisi ini menempatkan Gorontalo dalam posisi yang belum ideal sebagai destinasi wisata.
Alih-alih menjadi tempat untuk berlibur dalam beberapa hari, Gorontalo justru masih berada pada fase “destinasi singgah”—didatangi, dilalui, lalu ditinggalkan.
Situasi ini patut menjadi catatan serius, bukan hanya bagi pelaku industri perhotelan, tetapi juga bagi pemerintah daerah.
Ketergantungan pada momentum libur panjang tanpa diimbangi strategi memperpanjang masa tinggal wisatawan berpotensi membuat sektor ini stagnan. Tanpa event yang berkelanjutan, tanpa paket wisata yang terintegrasi, dan tanpa diferensiasi pengalaman, wisatawan tidak memiliki alasan kuat untuk tinggal lebih lama.
Di tengah angka kunjungan yang relatif stabil, tantangan sesungguhnya bukan lagi soal mendatangkan orang—melainkan bagaimana membuat mereka bertahan.
Jika tidak, maka angka-angka statistik hanya akan menjadi rutinitas laporan bulanan, tanpa perubahan signifikan pada kualitas pariwisata itu sendiri.
Dan Gorontalo, setidaknya untuk saat ini, masih belum sepenuhnya menjadi tujuan— melainkan sekadar tempat persinggahan.
Penulis: Lukman.



