GORONTALO, mimoza.tv – Sebuah ironi lingkungan tampak jelas di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Heledulaa Selatan, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Di lokasi yang telah dipasangi rambu “Kawasan Rawan Banjir”, saluran drainase justru dipenuhi tumpukan sampah plastik dan limbah rumah tangga.
Pemandangan ini bukan sekadar persoalan estetika kota, tetapi menjadi penanda bahwa kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan masih jauh dari harapan.
Warga setempat, Asrul Abdullah, menilai perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi persoalan utama yang memperparah kondisi lingkungan.
“Kesadaran masyarakat akan menjaga lingkungan masih kurang. Jika dibiarkan, kondisi ini malah menjadi salah satu penyebab banjir. Apalagi kawasan ini terkenal dengan rawan banjir,” ujarnya, Senin (17/4/2026).
Menurutnya, keberadaan rambu peringatan seharusnya menjadi pengingat bahwa wilayah tersebut membutuhkan perhatian bersama, bukan justru diabaikan dengan perilaku yang memperburuk risiko banjir.
Hal senada disampaikan Faisal Usman. Ia menyoroti penyumbatan drainase akibat kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan, baik oleh warga sekitar maupun pengguna jalan yang melintas.
“Perilaku buang sampah sembarangan ini mengakibatkan penyumbatan saluran air. Bisa jadi dari warga, atau pengendara yang melintas di Jalan Cendrawasih ini,” katanya.
Faisal menilai pemerintah perlu meninggalkan pola penanganan yang terlalu lunak terhadap pelanggaran kebersihan.
“Pemerintah jangan lagi memberikan sanksi ringan. Harus lebih tegas,” tegasnya.
Sementara itu, Suryati Amuaji juga mendorong adanya regulasi yang lebih keras namun tetap terukur guna membangun kesadaran kolektif masyarakat.
“Tujuannya demi kebersihan lingkungan itu sendiri, dan tentu tidak menjadi penyebab banjir. Menjadikan lingkungan lebih bersih dan sehat,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi gambaran bahwa persoalan banjir tidak semata lahir dari faktor cuaca atau infrastruktur, melainkan juga dari perilaku sosial yang belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan lingkungan.
Rambu peringatan mungkin telah berdiri. Namun tanpa kesadaran dan ketegasan, banjir berisiko tetap menjadi siklus yang dipelihara oleh kelalaian bersama.
Penulis: Lukman.



