GORONTALO, Mimoza.tv – Riuh tawa anak-anak yang biasanya memenuhi ruang kelas pada awal tahun ajaran baru nyaris tak terdengar di SD Negeri 13 Kota Barat, Kota Gorontalo. Di tengah euforia masuk sekolah, sekolah dasar negeri ini hanya menyambut tiga siswa baru untuk Tahun Ajaran 2026/2027.
Pemandangan itu menjadi potret nyata krisis jumlah peserta didik yang kini menghantui sejumlah sekolah negeri di daerah. Jika sekolah lain menerima puluhan bahkan ratusan murid baru, SDN 13 Kota Barat harus memulai tahun ajaran dengan satu kelas yang hanya diisi tiga anak.
Meski jumlahnya sangat sedikit, semangat ketiga siswa tersebut tidak surut. Mereka tetap mengikuti kegiatan belajar dengan penuh antusias. Guru kelas pun berupaya memberikan perhatian maksimal agar proses pembelajaran tetap berjalan seperti di sekolah pada umumnya.
Kepala SDN 13 Kota Barat, Farisal A. Gaib, mengungkapkan pihak sekolah telah melakukan berbagai cara untuk menarik minat masyarakat agar menyekolahkan anak mereka di SDN 13. Sosialisasi hingga pendekatan kepada warga telah dilakukan, namun hasilnya belum mampu mendongkrak jumlah pendaftar.
Menurut Farisal, salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan memilih sekolah tersebut adalah kondisi lingkungan yang kerap dilanda banjir saat musim hujan.
“Situasi itu dinilai memengaruhi rasa aman dan kenyamanan orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka,” ungkap Farisal.
Akibat terus menurunnya jumlah peserta didik, kini total siswa di SDN 13 Kota Barat hanya tersisa 34 orang dari seluruh jenjang kelas. Kondisi tersebut membuat keberlangsungan sekolah semakin menjadi perhatian.
Bahkan, SDN 13 Kota Barat sempat diwacanakan untuk diregruping atau digabungkan dengan sekolah lain karena minimnya jumlah siswa. Namun rencana tersebut mendapat penolakan dari para orang tua murid.
“Mereka menilai sekolah penggabungan berada cukup jauh sehingga akan menyulitkan anak-anak dalam mengakses pendidikan setiap hari,” kata Farisal.
Bagi sebagian warga, keberadaan SDN 13 bukan sekadar bangunan sekolah, melainkan akses pendidikan yang paling dekat dan mudah dijangkau oleh anak-anak di lingkungan sekitar.
Kepala sekolah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih, tidak hanya terhadap keberlangsungan sekolah, tetapi juga pada perbaikan infrastruktur lingkungan yang selama ini menjadi salah satu penyebab menurunnya minat masyarakat. Ia optimis, apabila persoalan banjir dapat diatasi, kepercayaan masyarakat untuk kembali menyekolahkan anak di SDN 13 akan meningkat.
Fenomena yang dialami SDN 13 Kota Barat menjadi cerminan tantangan dunia pendidikan di sejumlah daerah. Penurunan jumlah peserta didik tidak hanya dipengaruhi faktor demografi, tetapi juga kondisi lingkungan, fasilitas pendidikan, hingga persepsi masyarakat terhadap kualitas dan kenyamanan sekolah.Tanpa penanganan yang tepat, bukan tidak mungkin semakin banyak sekolah kecil yang terancam kehilangan murid, bahkan tutup di masa mendatang.



