GORONTALO. Mimoza.tv – Ketersediaan darah menjadi salah satu kebutuhan vital dalam pelayanan kesehatan. Di tengah tingginya kebutuhan transfusi bagi pasien, peran masyarakat sebagai pendonor sukarela dinilai sangat krusial untuk menjaga stok darah tetap tersedia.
Anggota DPRD Kota Gorontalo, Syafrudin Junaidi, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat dalam donor darah tidak hanya membantu pasien yang membutuhkan transfusi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjamin ketersediaan darah yang cukup, aman, dan berkualitas.
Hal itu disampaikan Syafrudin saat ditemui usai mengikuti rapat Komisi I di DPRD Kota Gorontalo.
Menurut aleg tiga periode tersebut, donor darah memberikan manfaat bagi dua pihak sekaligus. Darah yang didonorkan dapat menjadi penolong bagi pasien, sementara pendonor juga memperoleh manfaat kesehatan dari proses donor.
“Donor darah sangat dibutuhkan karena banyak masyarakat yang bergantung pada ketersediaan darah untuk mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, donor darah secara rutin antara lain dapat membantu mengontrol kadar zat besi dalam tubuh, mendukung regenerasi sel darah, serta memberikan kesempatan bagi pendonor memperoleh pemeriksaan kesehatan awal sebelum proses donor.
Selain manfaat fisik, aktivitas donor darah juga dinilai memiliki manfaat psikologis. Tindakan membantu orang lain secara sukarela dapat memberikan rasa puas dan kebahagiaan karena pendonor mengetahui darahnya berpotensi menyelamatkan nyawa orang lain.
Anggota Komisi I yang turut membidangi Kesehatan ini mengungkapkan, berdasarkan data yang diperolehnya, kebutuhan darah di wilayah Gorontalo yang dilayani PMI mencapai sekitar 1.500 kantong setiap bulan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan darah bukan persoalan sesaat. Ketersediaannya harus dijaga secara berkelanjutan agar fasilitas pelayanan kesehatan tidak kesulitan memenuhi kebutuhan pasien.
Karena itu, ia mendorong agar jumlah pendonor darah sukarela terus diperbanyak, terutama mereka yang bersedia melakukan donor secara rutin.
Semakin banyak pendonor aktif, kata dia, semakin besar pula peluang Unit Transfusi Darah (UTD) menjaga ketersediaan stok dan memenuhi permintaan darah dari rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Selain mengandalkan kesadaran masyarakat, Syafruddin menilai peningkatan akses pelayanan darah juga membutuhkan kerja sama yang lebih kuat antara puskesmas, Unit Transfusi Darah (UTD), dan rumah sakit.
Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan kebutuhan darah dapat dipetakan, donor dapat dijangkau lebih luas, serta distribusi darah kepada fasilitas pelayanan kesehatan berjalan secara optimal.
Menurutnya, upaya memenuhi kebutuhan darah tidak bisa hanya dibebankan kepada satu institusi. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat sekaligus koordinasi antarfasilitas kesehatan agar ketersediaan darah tetap terjaga.
Ia pun mengajak masyarakat Kota Gorontalo dan sekitarnya untuk tidak ragu menjadi pendonor.
“Jangan ragu untuk menjadi pendonor. Setetes darah yang kita berikan bisa sangat berarti bagi masyarakat yang membutuhkan,” ajaknya.
Bagi Syafrudin, donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian dari dukungan masyarakat terhadap keberlangsungan pelayanan kesehatan. Semakin kuat budaya donor darah sukarela, semakin besar pula peluang pasien mendapatkan darah ketika berada dalam kondisi yang membutuhkan transfusi.
