Oleh: Dr. Najamuddin Petta Solong, M.Ag.
Artikel Dr. Iwan Sunarya Panjaitan tentang RMS di Edu Perspektif 10 Oktober 2026 sangat tepat memotret kegelisahan kita hari ini. Fenomena “Rajin Malas Sama Saja” bukan karena manusia itu malas dari lahir (innate laziness), tapi karena Kegagalan Meritokrasi – ketika kerja keras, bakat, dan ketekunan tidak berbuah hasil yang adil. Inilah yang saya sebut penyebab batin lahirnya MJA Berlian.
1. MJA Berlian Lahir Dari Luka RMS Itu Sendiri
Seperti yang saya tulis di opini sebelumnya, MJA (Makin Jaya Agung) Berlian tidak lahir dari ruang rapat mewah. Ia lahir dari perlawanan. Empat founder-nya adalah anak dari tukang bangunan, buruh harian, dan ibu rumah tangga.
Mereka merasakan langsung apa yang Dr. Iwan sebut sebagai Learned Helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) dari Martin Seligman: sudah rajin sekuat tenaga, tapi tidak mengubah keadaan. Akhirnya mereka memutuskan membangun sistem sendiri.
Secara sosiologis, ini adalah ekonomi kerakyatan Pasal 33 UUD 1945: “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan”. Jargon MJA: Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita adalah jawaban langsung atas sistem favoritisme dan formalitas yang mematikan meritokrasi di luar sana.
2. Menjawab Tiga Akar RMS Menurut Filsafat Pendidikan
Dr. Iwan membedah RMS melalui 3 kacamata. MJA Berlian justru menawarkan restorasi di 3 titik itu:
a. Kegagalan Meritokrasi -> MJA Menawarkan Meritokrasi Sejati
Di sistem konvensional, yang di atas makin kaya, yang di bawah jadi pembeli. Di MJA, mitra baru dan mitra lama punya peluang sama. Tidak ada tutup poin mencekik dan belanja wajib bulanan. Sistemnya desentralisasi. Siapa yang bekerja, dia yang mendapat. Ini prinsip muamalah:
QS. An-Nisa: 29 – “Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka”
b. Krisis Makna (Eksistensialisme Sartre) -> MJA Memberi Makna Baru
Sartre bilang manusia mendefinisikan dirinya melalui pilihan dan tindakan. Ketika seseorang dihinggapi RMS, ia bekerja hanya menggugurkan kewajiban. MJA Business Education (MBE) hadir bukan menyuruh jualan, tapi sebagai sekolah bisnis: mengubah mental pekerja menjadi mental pemilik, mental konsumen menjadi mental Berlian. Mindset, Skill, Leadership.
c. Matinya Motivasi Intrinsik -> MJA Menghidupkan Kembali 3 Unsur Deci & Ryan
Teori Self-Determination Theory butuh Otonomi, Kompetensi, dan Keterhubungan.
- Otonomi: Mitra bebas memilih, bukan disuruh.
- Kompetensi: Produknya jelas: berlian asli bersertifikat resmi, nilainya investasi.
- Keterhubungan: Temu Mitra rutin setiap Jumat sore bersama Grand Master Ustadz Heru dan Master One Ade Mus Arizona di Gorontalo adalah majelis ilmu, bukan sekadar kejar bonus.
3. Jalan Keluar: Merestorasi Ekosistem dengan Sistem Berkah
Inilah pembeda yang saya tekankan di opini sebelumnya dan menjadi kunci untuk mengalahkan RMS. MJA tidak hanya menawarkan 6 keran penghasilan (Komisi Pengenalan, Matching, Cycle, Prestasi, Royalti 2% Omzet Global, Dana Hibah) hingga potensi 3,3 Miliar sebagai akumulasi matematis kerja kolektif, tapi satu hal yang tidak ada di sistem lain:
25% keuntungan perusahaan disisihkan untuk anak yatim dan fakir miskin.
Ini bukan marketing. Ini investasi langit.
QS. Al-Baqarah: 261 dan Hadis Bukhari tentang penanggung anak yatim di surga menjadi fondasi. Bisnis yang memberkahi yatim, mustahil tidak berkah. Inilah yang membuat akademisi, tokoh masyarakat Gorontalo mau bergabung – mereka melihat sekolah dan keberkahannya.
Penutup
RMS terjadi karena sistem lama membuat orang percaya “usaha sama saja dengan hasilnya…”
MJA Berlian membalikkan kalimat itu: Usaha yang terorganisir, dengan sistem yang adil, produk yang jujur, dan niat yang berkah, hasilnya tidak akan pernah sama antara yang berjuang dan yang diam.
“Bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang tidak berhenti melangkah meski jalannya tidak selalu mudah.”
Semoga saja dari Gorontalo kita tidak hanya akan melahirkan pemakai Berlian yang berkilau perhiasannya. Kita akan melahirkan pengusaha-pengusaha Berlian yang membuktikan bahwa rajin tidak pernah sama dengan malas.
*Dari Perlawanan, Menjadi Gerakan. Dari Gorontalo, Untuk Indonesia. Modal Kecil, Mental Berlian, Hasil Berlian.



