GORONTALO, mimoza.tv – Kualitas udara di Provinsi Gorontalo dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat. Kondisi ini diduga berkaitan dengan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terpantau mencapai wilayah Gorontalo dari Papua dan Kalimantan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo, Satria Topan Primadi, mengatakan kondisi tersebut terpantau melalui pengamatan karbon monoksida dan partikel halus PM2.5 oleh Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Palu.
“Pantauan karbon monoksida dan PM2.5 menunjukkan wilayah Gorontalo berada pada kualitas udara yang tidak sehat,” kata Satria, dikutip dari detikcom, Kamis (15/10/2026).
Meski cuaca cenderung cerah hingga cerah berawan, kondisi udara di Gorontalo masih dipengaruhi kabut asap.
Menurut Satria, asap tersebut berasal dari sumber lokal maupun kiriman dari wilayah lain.Berdasarkan pantauan citra satelit pada 13 Oktober 2026 pukul 11.00 WITA, sebaran asap dari Papua terdeteksi mencapai Gorontalo. Sementara itu, sejumlah titik panas masih terpantau di beberapa wilayah.
“Wilayah Gorontalo mendapat kiriman asap dari Papua. Jika melihat sebaran titik panas, saat ini masih terdapat titik panas di beberapa wilayah,” jelasnya.
Satria menjelaskan, asap dari Kalimantan juga sempat terpantau mencapai Gorontalo pada 8–10 Oktober 2026. Namun, kondisi saat ini lebih didominasi asap dari Papua.Potensi kiriman asap dari Kalimantan dinilai relatif kecil karena arah angin dominan bertiup dari timur. Selain asap kiriman, sumber asap lokal juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Warga Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar RuanganMenyikapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan asap, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat disarankan menggunakan masker yang sesuai, membatasi kegiatan di luar rumah, serta menghindari paparan asap secara langsung.Anang juga mengingatkan kelompok rentan agar lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
“Ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Gunakan masker yang sesuai saat beraktivitas di luar ruangan dan kurangi kegiatan yang tidak mendesak, terutama bagi kelompok rentan,” ujarnya.
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat diimbau terus memantau perkembangan kondisi udara dan mengikuti anjuran instansi terkait.
Penulis: Lukman



