Gorontalo – mimoza.tv – Ketika protes anti-pemerintah di Iran memasuki fase paling menggetarkan sejak akhir Desember 2025, negeri itu tidak hanya menutup akses internet domestik — pemerintah juga melancarkan operasi pemblokiran terhadap jaringan internet satelit Starlink milik Elon Musk, yang sebelumnya dianggap hampir tak terganggu. Fenomena ini menjadi ujian krisis besar tidak hanya bagi teknologi satelit komersial, tetapi juga geopolitik hubungan Iran–Amerika Serikat di era digital modern.
Starlink: Harapan dan Sasaran Baru di Langit Iran
Starlink, jaringan internet satelit oleh SpaceX, telah menjadi jalur hidup digital bagi penduduk yang terputus dari internet nasional di tengah blackout internet Iran yang dimulai 8 Januari 2026. Meski layanan ini ilegal dan tanpa lisensi di Iran, ribuan terminal telah diselundupkan ke dalam negeri sejak beberapa tahun terakhir — sebagai alat komunikasi alternatif di masa krisis.
Namun langkah Tehran ternyata lebih agresif dari sekadar blokir biasa: rezim menerapkan teknik perang elektronik militer untuk mengacaukan komunikasi Starlink, sebuah cara yang belum pernah berhasil dilakukan secara besar-besaran oleh negara lain sebelumnya.
Taktik Pemblokiran: Dari Jamming hingga Spoofing GPS
1. Jamming Sinyal
Iran menggunakan jammer sinyal frekuensi radio tingkat militer yang menyerang gelombang uplink dan downlink Starlink — sinyal antara terminal pengguna dan satelit di orbit rendah. Hasilnya: paket data tidak dapat mencapai satelit dengan stabil. Pakar di lapangan melaporkan gangguan hingga 80% hilangnya paket data di banyak kawasan, membuat layanan tidak lagi bisa mendukung komunikasi real-time seperti video atau panggilan telepon.
2. Spoofing dan Gangguan GPS
Starlink sangat bergantung pada sinyal GPS untuk menentukan posisi terminal dan menyambungkan ke satelit secara akurat. Iran disinyalir telah memancarkan sinyal GPS palsu (spoofing) yang membingungkan terminal Starlink — fungsi penentuan lokasi yang salah menghambat koneksi stabil.
Seorang analis independen menyebut bahwa efeknya mirip “Anda bisa mengirim teks, tetapi lupa panggilan video,” karena GPS tak lagi konsisten.
3. Taktik Bergerak: Jammer Mobile
Bukan hanya satu lokasi tetap, tetapi unit jammer bergerak (misalnya di atas kendaraan) juga dilaporkan digunakan — metode yang meniru strategi perang elektronik militer di medan konflik lain. Ini memungkinkan Tehran untuk menargetkan wilayah tertentu secara bergantian, mengurangi kemungkinan komunikasi tetap hidup.
4. Tekanan Hukum & Penegakan
Penggunaan terminal Starlink tanpa izin di Iran dapat dianggap sebagai pelanggaran serius, bahkan dipersepsikan sebagai “espionase,” dengan ancaman hukuman berat bagi pemiliknya. Hal ini bagian dari taktik sistematis pemerintah untuk mengurangi penggunaan layanan ini.
Dampak Langsung pada Starlink & Pengguna
Konektivitas Terdegradasi
Pengguna melaporkan bahwa walaupun terminal masih bisa terdeteksi, tingkat kehilangan paket besar membuat koneksi tidak stabil, lambat, atau sama sekali tak dapat diandalkan untuk aplikasi berat seperti streaming atau konferensi video.
Risiko Operasional
Karena pemerintah aktif mencari terminal ini, banyak pengguna memindahkan perangkat mereka atau menyamarkan lokasi untuk menghindari deteksi dan penyitaan.
Ketergantungan Teknologi Komersial
Kasus ini menyoroti risiko bergantung pada satu provider komersial untuk infrastruktur kritis: ketika layanan seperti Starlink diblokir, efeknya langsung terasa luas, dan solusi teknis tidak serta-merta tersedia untuk bypass tanpa dukungan dari perusahaan itu sendiri.
Implikasi Geopolitik: Iran vs Amerika & Dunia
Blokir Starlink bukan hanya insiden teknologi — ini telah menjadi isu geopolitik global. Pemerintah AS dan tokoh internasional memperhatikan bagaimana teknologi buatan perusahaan AS berperan di konflik luar negeri, sementara pemerintah Iran melihat hal itu sebagai ancaman terhadap kedaulatan digital mereka, terutama di masa protes besar dan ketidakstabilan internal.
Otoritas Tehran juga pernah membawa kasus pemblokiran Starlink ke forum internasional, mencoba memaksa badan internasional telekomunikasi untuk menekan AS dan negara lain guna menghentikan layanan tersebut.
Beberapa pengamat mengatakan ini mencerminkan kompetisi teknologi global, di mana internet bukan lagi netral, tapi menjadi arena persaingan geopolitik antara kekuatan negara dan perusahaan teknologi swasta besar.
Iran telah menerapkan kombinasi perang elektronik, spoofing GPS, taktik jamming bergerak, dan penegakan hukum untuk membuat layanan satelit Starlink sebagian besar tak lagi efektif di tengah blackout nasional. Ini menjadi salah satu contoh paling nyata dari bagaimana sebuah rezim dapat “mengunci langit digitalnya” — dengan implikasi besar tidak hanya bagi warga Iran, tetapi juga bagi masa depan teknologi internet satelit dalam konteks konflik geopolitik global modern.
Penulis: Lukman.
Dari berbagai sumber.



