Mimoza.tv — Nama Shahed-136 belakangan kerap mencuat dalam laporan konflik modern. Drone kamikaze murah buatan Iran ini dinilai mampu mengubah peta peperangan asimetris, bahkan memaksa negara-negara besar meninjau ulang doktrin militernya. Namun, sedikit yang menyadari bahwa kelahiran teknologi Shahed justru berawal dari insiden memalukan Amerika Serikat pada 2011.
Insiden RQ-170: Titik Balik Teknologi Drone Iran
Pada Desember 2011, Iran mengklaim berhasil mengambil alih kendali drone pengintai siluman milik AS, Lockheed Martin RQ-170 Sentinel, yang tengah menjalankan misi rahasia di wilayah Afghanistan. Drone tersebut dilaporkan menyimpang dari jalur dan mendarat utuh di wilayah Iran, dengan tingkat kerusakan minimal.
Washington kala itu tidak pernah mengakui secara terbuka kegagalan tersebut. Namun bagi Teheran, peristiwa itu menjadi harta karun teknologi militer.
Reverse-Engineering: Membongkar Rahasia Drone Siluman
Iran kemudian melakukan rekayasa ulang (reverse-engineering) terhadap RQ-170. Dari proses inilah, para insinyur Iran mempelajari konsep desain flying-wing, sistem navigasi, hingga material penyerap radar yang selama ini menjadi keunggulan drone siluman AS.
Hasilnya tidak instan, tetapi signifikan. Iran mulai melahirkan drone-drone generasi baru dengan desain yang mencolok mirip RQ-170.
Lahirnya Shahed-171 dan Shahed-191
Produk awal dari rekayasa tersebut adalah Shahed-171 Simorgh, drone bertenaga jet dengan bentuk hampir identik dengan RQ-170 Sentinel. Menyusul kemudian Shahed-191, yang memperkuat kemampuan pengintaian dan serangan presisi Iran.
Namun, Teheran menyadari satu hal penting: drone mahal tidak selalu efektif dalam perang modern.
Shahed-136: Murah, Sederhana, dan Mematikan
Berbekal pengalaman teknis dari drone siluman AS, Iran lalu mengembangkan sistem yang jauh lebih sederhana: Shahed-136. Drone ini dirancang sebagai amunisi berkeliaran (loitering munition) atau drone satu arah, yang membawa hulu ledak dan menghantam target secara langsung.
Biayanya murah, teknologinya tidak rumit, tetapi efektivitasnya tinggi—terutama untuk serangan saturasi yang menguras sistem pertahanan udara lawan.
Di sinilah Iran berhasil “membalik logika perang modern”: bukan kecanggihan ekstrem, melainkan kuantitas, kesederhanaan, dan ketahanan.
Ironi Strategis: AS Balik Meniru Drone Shahed
Ironisnya, efektivitas drone Shahed justru memicu langkah tak terduga dari Amerika Serikat. Sejumlah drone Shahed yang berhasil disita kemudian dipelajari ulang oleh militer AS.
Hasilnya adalah pengembangan sistem LUCAS (Low-cost Uncrewed Combat Attack System)—konsep drone tempur murah yang secara filosofi justru meniru pendekatan Iran.
Dari Rampasan ke Revolusi Perang
Singkatnya, drone Shahed Iran lahir dari rampasan teknologi AS, berkembang melalui rekayasa ulang, lalu menjelma menjadi simbol perang asimetris modern. Sebuah ironi geopolitik: teknologi yang awalnya dirancang untuk mengawasi Iran, justru menjadi fondasi senjata yang kini menantang dominasi militer Barat.
Dalam dunia peperangan modern, kisah Shahed menunjukkan satu pelajaran keras: siapa yang mampu beradaptasi dengan murah dan cepat, sering kali lebih berbahaya daripada yang paling canggih.


