GORONTALO, mimoza.tv — Nilai ekspor Provinsi Gorontalo pada Februari 2026 tercatat sebesar US$8,82 juta. Angka ini melonjak 97,72 persen dibandingkan Januari 2026 yang berada di posisi US$4,46 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, Dr. Wathekhi, S.Si, menyebut lonjakan ini sebagai indikasi adanya peningkatan aktivitas ekspor yang cukup signifikan dalam satu bulan terakhir.
“Nilai ekspor Februari 2026 mencapai US$8,82 juta, atau naik 97,72 persen dibandingkan Januari 2026,” ujar Wathekhi saat merilis fenomena ekonomi Gorontalo di Ruang Vicon Kantor BPS, Rabu (1/4/2026).
Meski demikian, peningkatan ini masih sangat dipengaruhi oleh satu komoditas utama, yakni pelet kayu (HS 44), yang menjadi tulang punggung ekspor Gorontalo saat ini.
“Ekspor melalui pelabuhan dan bandara di Gorontalo pada Februari 2026 sebesar US$6,24 juta, didominasi komoditas pelet kayu yang diekspor ke Jepang,” jelasnya.
Tujuan ekspor yang terkonsentrasi ke Jepang memperlihatkan bahwa pasar luar negeri Gorontalo masih bertumpu pada segmen tertentu, terutama industri berbasis energi biomassa.
Kondisi ini, di satu sisi, memberi dorongan cepat terhadap nilai ekspor. Namun di sisi lain, menyiratkan ketergantungan yang cukup tinggi terhadap satu jenis komoditas dan pasar tujuan.
Wathekhi tidak menampik bahwa struktur ekspor seperti ini masih menjadi tantangan.
“Komposisi ekspor kita masih didominasi oleh komoditas tertentu, sehingga fluktuasi sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar utama,” ungkapnya.
Dengan tren ini, lonjakan ekspor Februari lebih mencerminkan efek dorongan permintaan sesaat, ketimbang hasil dari struktur ekspor yang kuat dan beragam.
Ke depan, penguatan sektor lain di luar komoditas kehutanan menjadi penting, agar pertumbuhan ekspor tidak bersifat fluktuatif, melainkan lebih stabil dan berkelanjutan.
Penulis: Lukman.



