Gorontalo, mimoza.tv – Laju inflasi di Provinsi Gorontalo pada Januari 2026 tercatat 0,28 persen secara bulanan (month to month). Angka ini menunjukkan tekanan harga masih terjaga positif, meski di tengah sejumlah komoditas pangan yang justru mengalami penurunan harga.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, secara year on year, inflasi Gorontalo mencapai 4,53 persen, sementara inflasi tahun kalender juga berada di level 0,28 persen.
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menjelaskan bahwa struktur konsumsi masyarakat Gorontalo memiliki peran penting dalam pembentukan inflasi daerah. Salah satu penentunya adalah komoditas ikan.
“Ikan adalah komoditas yang paling banyak atau komoditas utama yang dikonsumsi masyarakat Gorontalo. Ketika terjadi peningkatan harga, tentunya berpengaruh pada inflasi secara umum,” ujar Dwi.
Data BPS menunjukkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan inflasi 0,77 persen dan andil 0,28 persen. Sejumlah komoditas ikan seperti ikan selar, ikan layang, ikan cakalang, hingga ikan mujair tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi Januari 2026.
Meski demikian, Dwi menegaskan bahwa tidak semua komoditas pangan mengalami kenaikan. Beberapa bahan pokok justru mengalami penurunan harga dan berperan sebagai penahan inflasi.
“Sebenarnya beberapa komoditas utama juga mengalami penurunan, seperti cabai rawit dan bawang merah. Tapi karena nilai ikan lebih tinggi, akhirnya inflasi Gorontalo masih positif di angka 0,28 persen, sementara secara nasional sudah negatif,” jelasnya.
BPS mencatat, cabai rawit menjadi komoditas penyumbang deflasi tertinggi pada Januari 2026, disusul bawang merah, daging ayam ras, minyak goreng, dan beras. Penurunan harga cabai rawit dinilai cukup signifikan mengingat tingginya tingkat konsumsi masyarakat Gorontalo terhadap komoditas tersebut.
“Cabai juga merupakan komoditas yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat Gorontalo dan menjadi salah satu penyumbang deflasi tertinggi. Penurunan harganya paling tinggi di bulan Januari 2026,” kata Dwi.
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan adanya tarik-menarik harga antar komoditas. Kenaikan harga ikan di satu sisi dan penurunan harga cabai di sisi lain membuat inflasi tetap berada di level moderat.
“Ketika ikan naik dan cabai turun, saling tarik-menarik. Sehingga inflasinya masih cukup terjaga di angka 0,28 persen,” ujarnya.
Selain faktor pangan, BPS juga menyoroti perkembangan tarif listrik yang memengaruhi inflasi tahunan. Dwi menjelaskan bahwa kenaikan tarif listrik secara year on year bukan disebabkan oleh kenaikan harga baru, melainkan dampak perbandingan dengan kebijakan diskon listrik pada Januari 2025.
“Di Januari 2025 lalu ada diskon listrik dari pemerintah untuk semua pengguna. Ketika sekarang kembali ke tarif normal, jika dibandingkan dengan masa diskon, terlihat seperti lonjakan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut perlu dipahami secara proporsional.
“Itu sebenarnya bukan kenaikan listrik, tetapi listriknya kembali ke tarif normal. Karena dulunya ada diskon, jadi memaknainya seperti itu,” pungkas Dwi.
BPS menilai, secara umum inflasi Gorontalo pada Januari 2026 masih berada dalam kondisi terkendali. Dinamika harga pangan dan kebijakan pemerintah tetap menjadi faktor utama yang akan menentukan arah inflasi daerah ke depan.
Penulis: Lukman.



