Gorontalo, mimoza.tv – Selama Ramadan dan menjelang Idulfitri 2026, tekanan harga pangan kembali menjadi perhatian di Gorontalo. Pola musiman yang kerap diikuti lonjakan permintaan dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas strategis.
Dalam kegiatan Ngopi Bareng Insan Media (PIRAMIDA) di Galeri Olaku, Jumat (20/2/2026), Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, menegaskan bahwa pengendalian inflasi tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus melalui sinergi bersama pemerintah daerah dan TPID.
“Kami telah memfasilitasi High Level Meeting TPID bersama seluruh kepala daerah. Tindak lanjutnya adalah memperkuat strategi 4K agar pengendalian inflasi lebih terintegrasi menjelang Ramadan dan Idulfitri,” ujar Bambang.
Strategi pertama adalah Keterjangkauan Harga (K1). BI mengoptimalkan pemantauan harga melalui early warning system seperti IPH BPS dan PIHPS BI, disertai pemantauan lapangan dan intervensi pasar melalui Gerakan Pangan Murah (GPM).
“Sampai saat ini sudah tiga kali GPM dilaksanakan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Ke depan akan kami tingkatkan intensitasnya agar stabilisasi harga lebih efektif,” jelasnya.
Langkah kedua adalah Ketersediaan Pasokan (K2). BI mendorong penguatan produksi lokal sekaligus optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Pasokan bawang merah didukung dari Kabupaten Enrekang dan tomat dari Kabupaten Minahasa Selatan. Rencana penguatan kerja sama juga akan dilakukan antara Bone Bolango dan Tomohon.
Di sinilah tantangan struktural Gorontalo terlihat. Ketergantungan pada pasokan luar daerah untuk komoditas tertentu membuat harga domestik sensitif terhadap gangguan distribusi dan cuaca.
Strategi ketiga, Kelancaran Distribusi (K3), dilakukan melalui subsidi ongkos angkut dalam pelaksanaan GPM dan pasar murah, serta memastikan ketersediaan BBM, LPG, dan armada angkut.
“Distribusi harus dijaga. Kalau rantai pasok terganggu, harga di tingkat konsumen pasti terdorong naik,” tegas Bambang.
Sementara itu, strategi keempat adalah Komunikasi Efektif (K4). BI mengampanyekan belanja bijak untuk mencegah lonjakan permintaan berlebihan.
“Kami mengimbau masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan. Ramadan memang meningkatkan konsumsi, tetapi jangan sampai terjadi demand yang berlebihan yang justru mendorong kenaikan harga,” ujarnya.
Deputi KPwBI, Ciptoning Suryo Condro, menambahkan bahwa dalam momentum Ramadan, BI Gorontalo juga menggelar Bazar Ramadan yang menghadirkan produk UMKM binaan.
“Di Galeri Olaku juga akan digelar Gerakan Pangan Murah. Selain menjual bahan pangan dengan harga terjangkau, kami memberikan subsidi ongkos angkut agar harga di tingkat konsumen tetap stabil,” kata Ciptoning.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan produk lokal sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi.
“Kami terus mengampanyekan penggunaan produk UMKM, terutama olahan pangan lokal. Diversifikasi konsumsi bisa membantu menekan tekanan pada komoditas segar tertentu,” tambahnya.
Secara ekonomi, Ramadan selalu menjadi momentum peningkatan konsumsi rumah tangga. Tanpa keseimbangan pasokan dan distribusi, lonjakan permintaan dapat mendorong inflasi musiman.
Stabilitas harga bukan sekadar indikator makro. Ia beririsan langsung dengan daya beli masyarakat. Jika inflasi terkendali, ruang konsumsi tetap terjaga. Sebaliknya, jika harga melonjak, kelompok berpendapatan tetap menjadi yang paling terdampak.
Strategi 4K yang diperkuat BI dan pemerintah daerah menjadi instrumen untuk memastikan perayaan Ramadan dan Idulfitri tidak dibayangi tekanan harga. Namun dalam jangka panjang, penguatan produksi lokal tetap menjadi pekerjaan rumah agar Gorontalo tidak terlalu bergantung pada pasokan luar daerah.
Penulis: Lukman



