Gorontalo, mimoza.tv – Keluarga korban kekerasan seksual yang diduga melibatkan oknum anggota Polres Bone Bolango mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo untuk segera menetapkan status hukum terhadap terlapor. Desakan ini disampaikan oleh HP, yang juga berprofesi sebagai pengacara dan masih memiliki hubungan keluarga dengan korban.
Dalam wawancaranya Rabu (23/7/2025), HP menyoroti lambatnya penanganan perkara yang dilaporkan sejak dua bulan lalu. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal Juni, pihaknya telah mempertanyakan perkembangan penanganan kasus ini ke Polres Bone Bolango, namun hanya mendapat jawaban bahwa perkara akan dilimpahkan ke Polda Gorontalo.
“Saya tanya soal progres penanganan, dijawab bahwa perkara ini akan ditarik ke Polda. Tapi hingga kini belum jelas siapa yang menangani,” ujar HP kepada mimoza.tv.
Selain itu, ia juga mempertanyakan keterlambatan pengiriman Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). “Surat itu baru dikirim setelah saya desak, itu pun hanya dalam bentuk PDF, bukan salinan fisiknya,” tambahnya.
HP mengaku kecewa dengan sikap aparat, baik di Polres Bone Bolango maupun di Polda Gorontalo. Ketika menyambangi Subdit IV Ditreskrimum Polda Gorontalo, ia justru mendapat jawaban bahwa berkas perkara belum sampai di tangan penyidik Polda.
“Wasidik menyampaikan bahwa Polda siap menangani jika berkas dan alat bukti sudah lengkap. Tapi kenyataannya, berkas belum juga dilimpahkan. Kami jadi bingung, sebenarnya perkara ini ditangani siapa?” tegasnya.
Menurutnya, keluarga korban telah bersikap kooperatif dan berharap proses hukum berjalan profesional dan transparan, tanpa intervensi.
Latar Belakang Kasus: Dugaan Kekerasan Seksual Terhadap Mahasiswi
Kasus ini bermula dari laporan keluarga korban atas dugaan kekerasan seksual dan pemanfaatan relasi tidak setara oleh oknum polisi terhadap seorang mahasiswi asal Gorontalo yang sedang menempuh pendidikan di Makassar, Sulawesi Selatan.
Dari keterangan kerabat korban yang identitasnya kami samarkan demi keamanan, korban diduga diminta pulang ke Gorontalo oleh pelaku pada awal Mei 2025 tanpa sepengetahuan keluarga. Setibanya di Gorontalo, korban tinggal di kediaman terlapor selama kurang lebih dua pekan, meski tanpa ikatan resmi.
“Kami baru tahu dia sudah di Gorontalo sekitar tanggal 25 Mei. Sebelumnya kami kira masih kuliah di Makassar,” ujar salah satu kerabat korban.
Janji Nikah Tak Ditepati, Korban Dalam Tekanan Psikologis
Dugaan manipulasi emosional turut menguatkan laporan keluarga. Terlapor disebut sempat menjanjikan akan menikahi korban, namun janji itu tidak pernah dipenuhi. Bahkan korban beberapa kali mencoba menghindar karena mengetahui pelaku sudah beristri.
“Korban sempat menolak dan menjaga jarak, tapi terus ditekan secara emosional hingga berada dalam posisi sulit,” tambah kerabat tersebut.
Keluarga berharap aparat penegak hukum memprioritaskan perlindungan korban dan menindaklanjuti laporan ini sesuai hukum yang berlaku, tanpa ada diskriminasi ataupun pengabaian.