PONOROGO, mimoza.tv – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, membuka kegiatan Tadarusan Budaya Ramadan yang digelar di pelataran Monumen Reog Ponorogo, Kecamatan Sampung, Sabtu malam (14/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana Ramadan tersebut memadukan nilai religius dengan kekayaan tradisi lokal khas Ponorogo. Puluhan seniman dari berbagai komunitas turut ambil bagian dalam acara yang diinisiasi oleh Paguyuban Reog Regol Wengker.
Pelataran monumen dipenuhi sekitar 70 dadak merak, simbol utama dalam pertunjukan Reog Ponorogo. Selain itu, puluhan penari jathil serta bujangganong turut menampilkan tarian energik yang menghidupkan suasana malam Ramadan.
Berbagai komunitas kesenian reog tidak hanya berasal dari Kecamatan Sampung, tetapi juga dari sejumlah wilayah lain di Ponorogo. Kehadiran mereka menjadikan kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi besar bagi para seniman reog.
Dalam sambutannya, Lisdyarita menegaskan bahwa budaya adalah identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia menyebut kegiatan seperti Tadarusan Budaya menjadi bukti bahwa nilai tradisi dan nilai religius dapat berjalan berdampingan.
“Reog adalah kebanggaan masyarakat Ponorogo. Tradisi ini harus terus dijaga dan diwariskan, terutama kepada generasi muda agar identitas budaya kita tetap hidup,” ujar Lisdyarita.
Ia juga menyampaikan pesan kepada para pelaku UMKM dan pedagang kuliner yang berjualan di kawasan Monumen Reog Sampung agar menjaga kualitas dan cita rasa makanan yang dijual.
Menurutnya, kawasan monumen memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya sekaligus wisata kuliner.
“Saya berharap para pelaku UMKM tetap menjaga cita rasa makanan yang dijual. Kalau makanannya enak dan khas, orang datang ke sini bukan hanya menikmati keindahan monumen dan pertunjukan reog, tetapi juga kembali lagi untuk menikmati kulinernya,” pesannya.
Sementara itu, sesepuh reog Ponorogo, Supriono Golan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk “tadarus budaya”, yakni upaya mengkaji, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya di tengah masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa Ponorogo dapat dikenal sebagai kota yang kuat dalam identitas budaya sekaligus religius.
“Tadarus budaya ini adalah cara kita merawat identitas Ponorogo sebagai kota religi dan budaya. Reog dan Ramadan bisa berjalan beriringan,” ungkapnya.
Selain penampilan komunitas reog, acara tersebut juga dimeriahkan oleh pertunjukan dari komunitas tari Dhenata yang menampilkan tarian tradisional Bujang Ganong.
Kegiatan Tadarusan Budaya Ramadan ini pun menjadi ruang pertemuan para seniman, tokoh masyarakat, dan warga dalam suasana silaturahmi. Di tengah bulan suci Ramadan, acara tersebut menegaskan bahwa seni, budaya, dan spiritualitas dapat berpadu dalam harmoni untuk memperkuat kebersamaan masyarakat Ponorogo.
Penulis: Lukman.



