Gorontalo, mimoza.tv – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah rudal hipersonik semakin sering muncul dalam pemberitaan militer global. Salah satu yang banyak dibicarakan adalah Fattah-2, rudal hipersonik milik Iran yang disebut-sebut memiliki kemampuan manuver tinggi dan sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara modern milik Amerika Serikat maupun Israel.
Rudal ini pertama kali diperkenalkan Iran kepada publik pada November 2023. Pemerintah Teheran mengklaim Fattah-2 merupakan generasi baru sistem persenjataan strategis mereka yang mampu terbang dengan kecepatan sangat tinggi serta melakukan manuver tidak terduga di udara.
Sejumlah laporan media internasional menyebut rudal tersebut memiliki daya jelajah sekitar 1.400 hingga 1.800 kilometer, cukup untuk menjangkau berbagai target strategis di kawasan Timur Tengah.
Kecepatan Ekstrem
Salah satu faktor utama yang membuat rudal hipersonik sulit dicegat adalah kecepatannya.
Beberapa laporan militer dan media internasional menyebut Fattah-2 dapat mencapai kecepatan hingga Mach 15, atau sekitar 18.000 kilometer per jam. Kecepatan tersebut berarti rudal dapat bergerak 15 kali lebih cepat dari kecepatan suara.
Dengan kecepatan seperti itu, waktu yang tersedia bagi radar dan sistem pertahanan udara untuk mendeteksi, menghitung lintasan, dan meluncurkan rudal pencegat menjadi sangat terbatas.
Mampu Bermanuver di Udara
Selain cepat, rudal hipersonik juga dirancang mampu bermanuver saat terbang.
Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang biasanya mengikuti lintasan parabola yang relatif dapat diprediksi, rudal hipersonik dapat mengubah arah selama fase penerbangan.
Kemampuan ini membuat sistem pertahanan udara kesulitan memperkirakan titik jatuhnya. Sistem intersepsi seperti Arrow-3, Patriot, maupun Iron Dome yang digunakan Israel dirancang untuk menghadapi ancaman dengan jalur yang lebih mudah diprediksi.
Ketika rudal mampu bermanuver di udara, komputer pertahanan harus terus memperbarui perhitungan lintasan secara real time.
Terbang Lebih Rendah
Faktor lain yang membuat rudal hipersonik sulit dicegat adalah ketinggian terbangnya.
Rudal balistik biasanya naik tinggi hingga luar atmosfer sebelum kembali turun menuju target. Jalur ini membuat radar dapat mendeteksi ancaman sejak fase awal.
Sebaliknya, sebagian rudal hipersonik meluncur pada ketinggian lebih rendah di atmosfer, sehingga waktu deteksi radar menjadi lebih singkat.
Spesifikasi Fattah-2
Berdasarkan sejumlah laporan militer dan pemberitaan media internasional, rudal Fattah-2 memiliki sejumlah karakteristik utama, di antaranya:
- Kecepatan: hingga Mach 15
- Jangkauan: sekitar 1.400–1.800 kilometer
- Muatan hulu ledak: sekitar 200 kilogram
- Sistem peluncur: kendaraan Road Mobile Transporter Erector Launcher (TEL)
- Kemampuan: manuver hipersonik di atmosfer
Penggunaan peluncur mobile juga membuat rudal lebih sulit dilacak sebelum diluncurkan karena dapat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain.
Bagian dari Strategi Daya Tangkal
Program rudal hipersonik Iran dinilai menjadi bagian dari strategi deterrence atau daya tangkal terhadap negara-negara yang dianggap sebagai ancaman.
Selain Fattah-2, Iran juga diketahui memiliki berbagai jenis rudal balistik lain seperti Sejjil, Emad, Ghadr, hingga Khorramshahr yang memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer.
Dalam konteks geopolitik Timur Tengah, kemampuan rudal tersebut membuat Iran tetap menjadi salah satu kekuatan militer yang diperhitungkan di kawasan.
Meski demikian, para analis militer juga mencatat bahwa klaim kemampuan senjata baru sering kali masih memerlukan verifikasi independen. Banyak detail teknis dari rudal hipersonik Iran yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap secara terbuka.
Penulis: Lukman.
Dari berbagai sumber.



