GORONTALO, mimoza.tv — Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Gorontalo pada Maret 2026 tercatat sebesar 122,88. Angka ini naik 0,84 persen dibandingkan Februari 2026 yang berada di posisi 121,85.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, Dr. Wathekhi, S.Si, menyebut kenaikan ini mencerminkan mulai membaiknya daya tukar petani, meski belum sepenuhnya kuat.
“NTP Maret 2026 sebesar 122,88 atau naik 0,84 persen dibandingkan Februari 2026,” ujar Wathekhi dalam rilis resmi, Rabu (1/4/2026).
Kenaikan NTP didorong oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,62 persen menjadi 153,83. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru mengalami penurunan sebesar 0,23 persen menjadi 125,19.
Kondisi ini memberi ruang napas bagi petani, karena harga hasil produksi naik, sementara beban biaya yang harus dikeluarkan cenderung turun.
Peta Kawasan: Gorontalo Masih Stabil
Di kawasan Indonesia Timur, tren NTP menunjukkan dinamika yang tidak merata. Dari 14 provinsi, hanya enam yang mengalami kenaikan, sementara delapan lainnya justru turun.
Kenaikan tertinggi terjadi di Maluku Utara sebesar 1,14 persen. Sebaliknya, penurunan terdalam dialami Sulawesi Tengah yang anjlok hingga 5,27 persen.
Dalam konteks ini, posisi Gorontalo relatif stabil—naik, tetapi belum cukup kuat untuk disebut sebagai lonjakan.
Sub-sektor Tidak Bergerak Seragam
Jika ditelusuri lebih dalam, tidak semua subsektor bergerak searah. Beberapa subsektor justru mengalami tekanan.
Hortikultura mencatat kenaikan tertinggi, sementara tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan. Sub-sektor peternakan dan perikanan masih menunjukkan tren positif, meski dengan kenaikan terbatas.
Artinya, perbaikan NTP belum merata di seluruh sektor pertanian.
Konsumsi Rumah Tangga Petani Justru Turun
Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Gorontalo pada Maret 2026 justru mengalami penurunan sebesar 0,41 persen.
Penurunan terdalam terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,81 persen—indikasi bahwa konsumsi rumah tangga petani masih tertahan.
“Terjadi penurunan IKRT sebesar 0,41 persen, dengan penurunan terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” jelas Wathekhi.
Sinyal Positif, Tapi Belum Aman
Kenaikan NTP sering dibaca sebagai indikator membaiknya kesejahteraan petani. Namun, dalam konteks Gorontalo saat ini, kenaikan tersebut masih tergolong tipis dan belum merata.
Ada paradoks yang muncul: NTP naik, tetapi konsumsi rumah tangga petani justru turun.
Ini memberi sinyal bahwa perbaikan yang terjadi masih bersifat teknis—dipengaruhi oleh harga—belum sepenuhnya mencerminkan penguatan ekonomi riil di tingkat petani.
Di titik ini, data BPS bukan sekadar angka. Ia menjadi pengingat bahwa kesejahteraan petani tidak cukup diukur dari kenaikan indeks, tetapi dari seberapa kuat daya beli dan stabilitas pendapatan mereka dalam jangka panjang.
PenulisL Lukman



