Di sebuah daerah yang kita sebut saja Kabupaten Konoha Utara, ada seorang legislator muda yang konon menjadi yang termuda di antara para seniornya. Ia datang dengan semangat menjaga marwah lembaga, dengan keyakinan bahwa politik tidak selalu harus identik dengan kompromi yang melelahkan. Namanya—jika diartikan secara bebas—bermakna “sebaik-baik perempuan.” Sebuah nama yang berat, sekaligus doa panjang dari orang tua.
Di lembaga perwakilan itu, ia belajar bahwa menjaga nama baik tidak selalu sesederhana menjaga tutur kata dan sikap politik. Kadang, yang lebih sulit adalah menjaga diri dari cerita-cerita yang disusun orang lain. Isu, gosip, hingga tudingan yang beredar di lorong-lorong kekuasaan bisa menjelma lebih cepat daripada klarifikasi.
Beberapa waktu lalu, ia terseret dalam pusaran kabar yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Ada yang menyebut dirinya terlalu bersemangat ikut perjalanan dinas. Ada pula yang berbisik soal “ganti-ganti baju” dalam satu agenda, seolah itu metafora yang lebih penting daripada substansi tugas. Di negeri yang gemar menilai dari potongan gambar dan potongan kalimat, metafora bisa lebih berbahaya dari fakta.
Padahal, perjalanan dinas adalah instrumen kerja. Ia bisa menjadi sarana menyerap aspirasi, tapi juga bisa menjadi celah pemborosan. Di situlah integritas diuji. Namun ketika tudingan mulai beredar—antara rakus atau sekadar ingin balik modal nyaleg—yang diuji bukan lagi kebijakan, melainkan karakter.
Yang menarik, di tengah riuh itu, ia pernah terlihat menangis. Bukan karena takut diperiksa. Bukan pula karena tak siap menghadapi kritik. Ia merasa dibohongi. Diajak dalam satu agenda yang disebut resmi, tetapi belakangan dipelintir menjadi cerita lain. Di ruang publik yang keras, air mata sering dianggap kelemahan. Padahal, bisa jadi itu bentuk kekecewaan paling jujur dari seseorang yang merasa dijebak dalam narasi yang bukan miliknya.
Satire kadang diperlukan untuk membaca realitas. Di Konoha Utara, para penjaga marwah lembaga kerap lebih sibuk menjaga citra ketimbang menjaga anggaran. Mereka fasih bicara prosedur, namun pelan ketika diminta bicara substansi. Sementara di luar sana, rakyat lebih peduli pada soal harga kebutuhan pokok, peluang kerja, hingga isu calo dalam rekrutmen aparatur yang tak kunjung benar-benar dibereskan.
Ironisnya, lembaga yang seharusnya menjadi rumah pengawasan publik justru kerap terseret dalam drama internal. Energi habis pada silang sengketa dan perang tafsir. Seolah-olah menjaga nama baik pribadi lebih penting daripada menjaga uang rakyat dari tangan-tangan tak terlihat.
Namun, di antara semua itu, sosok muda tadi tetap berdiri dengan satu beban moral: menjaga nama yang diberikan orang tuanya. Nama yang berarti baik. Nama yang, dalam tafsir sederhana, adalah amanah sepanjang hayat. Dan mungkin benar—di tengah musuh dalam selimut dan kawan yang pandai berbisik—menjaga nama baik memang lebih sulit daripada menjaga jabatan.
Satire ini bukan untuk menghakimi siapa benar atau salah. Ia hanya cermin kecil bahwa di negeri bernama Konoha Utara, integritas sering kali diuji bukan oleh aturan, melainkan oleh cerita yang sengaja dibentuk. Dan pada akhirnya, waktu yang akan menjawab: siapa yang sungguh menjaga marwah lembaga, dan siapa yang sekadar pandai menjahit narasi.



