Gorontalo, mimoza.tv – RS Aloei Saboe, Kota Gorontalo menggelar simulasi penanganan stroke sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan tenaga medis sekaligus memperkuat pemahaman keluarga pasien terhadap pentingnya deteksi dini. Kegiatan ini menitikberatkan pada edukasi faktor risiko, pengenalan gejala awal stroke, hingga penanganan cepat dan tepat sesuai prosedur medis.
Simulasi mencakup pelatihan deteksi dini menggunakan metode FAST (Face, Arm, Speech, Time), latihan fisik intensif, serta simulasi rehabilitasi motorik berbasis teknologi untuk mencegah komplikasi lanjutan. Kegiatan ini melibatkan tim dokter dan tenaga kesehatan yang selama ini menangani kasus stroke, di antaranya dr. Jeane Novita Irene Abbas, Sp.N, M.Kes, F., dr. Irianto Dunda, Sp.S, serta dr. Wahyuni Zubaedi, Sp.S, Fellowship Neurointervensi Vaskular.
Dokter spesialis neurointensif dan neuroemergensi RS Aloei Saboe, dr. Jeane Novita Irene Abbas, menjelaskan bahwa stroke merupakan kondisi serius yang berpotensi menyebabkan kematian maupun kecacatan permanen apabila tidak ditangani dengan cepat.
“Stroke bisa berakibat fatal. Namun jika penanganannya dilakukan secara cepat dan tepat, risiko kematian dan kecacatan dapat diminimalkan,” ujar dr. Jeane saat diwawancarai, Kamis (29/1/2026).

Menurutnya, simulasi ini didahului dengan kegiatan sosialisasi agar seluruh tim medis memahami alur penanganan secara menyeluruh. Kecepatan dan ketepatan menjadi poin utama dalam simulasi, termasuk kemampuan tenaga medis dalam mengambil keputusan medis dalam waktu singkat.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat, khususnya keluarga pasien, agar mampu mengenali tanda-tanda stroke sejak dini sehingga pasien dapat segera dibawa ke rumah sakit.
“Untuk stroke sumbatan, penanganan idealnya dilakukan kurang dari empat jam sejak gejala muncul. Karena itu, pengenalan tanda stroke menjadi sangat penting agar peluang penyelamatan lebih besar,” jelasnya.
Sementara itu, stroke akibat perdarahan memerlukan penanganan yang berbeda. Jika kondisi memungkinkan, tindakan operatif dapat dilakukan untuk menangani pembuluh darah yang pecah.
Dr. Jeane mengungkapkan, salah satu kendala utama dalam penanganan stroke adalah keterlambatan pasien tiba di rumah sakit. Hal ini sering disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap gejala stroke, serta faktor jarak tempuh ke fasilitas kesehatan.
“Masih banyak yang tidak menyadari bahwa yang dialami adalah stroke. Selain itu, jarak ke rumah sakit juga menjadi kendala sehingga pasien datang melewati batas waktu penanganan optimal,” katanya.
Ia berharap, simulasi ini dapat diikuti dengan dukungan fasilitas yang memadai agar standar penanganan stroke dapat diterapkan secara optimal.
“Harapannya, semua pasien yang datang bisa ditangani sesuai kriteria medis, sehingga angka kematian dan kecacatan akibat stroke dapat ditekan,” pungkasnya.
Penulis: Lukman.



