Gorontalo, mimoza.tv – Di sungai-sungai keruh Amazon, ada satu makhluk yang kerap dibungkus mitos: Belut listrik. Ia disebut mampu menyetrum kuda, melumpuhkan manusia, bahkan ada yang percaya dagingnya masih “bermuatan listrik”. Benarkah demikian?
Sains memberi jawaban yang lebih tenang — sekaligus lebih menarik.
Listrik Itu Tidak “Disimpan”, Tapi Diproduksi
Belut listrik tidak menyimpan listrik seperti aki. Ia menghasilkan arus melalui ribuan sel khusus bernama elektrosit yang tersusun seperti baterai seri di sepanjang tubuhnya. Saat sistem saraf memerintahkan, sel-sel itu aktif serentak, menghasilkan lonjakan tegangan yang bisa mencapai ratusan volt — namun hanya dalam hitungan milidetik.
Dalam kondisi normal, belut memancarkan pulsa lemah untuk navigasi dan komunikasi. Tegangan tinggi baru dilepas ketika berburu atau terancam. Artinya, listriknya bersifat situasional dan terkendali, bukan mengalir terus-menerus.
Disentuh di Air, Diangkat ke Darat: Masih Berbahaya?
Selama belut masih hidup dan sistem sarafnya bekerja, ia tetap bisa menyengat — bahkan di luar air. Bedanya, di air arus menyebar lebih luas, sedangkan di darat sengatan menjadi lebih fokus pada titik kontak langsung.
Namun ada satu hal yang perlu diluruskan: setelah mati, organ listrik berhenti bekerja. Tidak ada “sisa listrik” yang tersimpan di dagingnya.
Apakah Bisa Menyalakan Lampu?
Secara teori, lonjakan tegangannya cukup tinggi. Tapi listrik yang dihasilkan berbentuk pulsa singkat dan tidak stabil. Tanpa rangkaian pengatur, ia tidak bisa menjadi sumber energi praktis. Mitos bahwa belut listrik bisa menjadi “pembangkit listrik alami” lebih dekat ke sensasi daripada realitas ilmiah.
Energi listriknya berasal dari metabolisme makanan. Jika dipaksa mengeluarkan sengatan berulang-ulang, belut akan mengalami kelelahan fisiologis.
Dagingnya Bisa Dimakan?
Di beberapa wilayah Amazon, belut listrik memang dikonsumsi. Ia tidak beracun, dan tidak menyisakan efek listrik setelah mati. Risiko terbesar bukan pada dagingnya, melainkan pada proses penangkapannya.
Reproduksi: Ada Sarang dari Air Liur
Yang jarang diketahui, pejantan membuat sarang berbusa dari air liur untuk melindungi telur. Sarang ini tidak bermuatan listrik. Listrik hanya diproduksi oleh organ khusus saat diaktifkan. Ia bukan zat yang merembes ke lingkungan.
Fakta ini penting, sebab banyak asumsi publik mencampuradukkan antara fungsi biologis dan sifat permanen.
Antara Sains dan Sensasi
Belut listrik bukan monster sungai, bukan pula generator berjalan. Ia adalah contoh adaptasi evolusioner yang cerdas di lingkungan air keruh Amazon — tempat penglihatan tidak efektif dan listrik menjadi “indra tambahan”.
Di era ketika informasi mudah dibumbui dramatisasi, memahami makhluk ini secara ilmiah justru lebih memukau daripada mitosnya. Sains, pada akhirnya, tidak pernah kalah menarik dari cerita yang dibesar-besarkan.
Penulis: Lukman.
Dari berbagai sumber.



