Gorontalo, mimoza.tv – Langkah progresif kembali diambil Liga Inggris. Kompetisi sepak bola paling komersial di dunia itu memastikan pertandingan dapat dihentikan sejenak saat waktu berbuka puasa tiba, demi memberi kesempatan kepada pemain Muslim membatalkan puasanya di tengah laga.
Kebijakan ini bukan barang baru. Regulasi serupa pertama kali diterapkan pada musim 2021. Namun, setiap Ramadan, kebijakan tersebut kembali ditegaskan—sebuah sinyal bahwa inklusivitas bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan standar operasional kompetisi.
Di antara pemain yang menjalani puasa Ramadan musim ini terdapat nama-nama besar seperti Mohamed Salah, William Saliba, Amad Diallo, Mohammed Kudus, hingga Rayan Ait-Nouri. Mereka tetap tampil kompetitif meski harus menahan lapar dan dahaga sejak fajar.
Tidak Menghentikan Ritme, Tapi Menghormati Keyakinan Mengutip laporan BBC Sport, pertandingan tidak akan dihentikan secara paksa saat bola masih hidup. Jeda hanya diberikan pada momen “natural stoppage” seperti goal kick, free kick, atau throw-in.
Artinya, integritas pertandingan tetap dijaga. Tidak ada perlakuan istimewa yang mengganggu ritme permainan. Namun pada saat yang tepat, wasit memberi ruang beberapa detik agar pemain yang berpuasa bisa meneguk air atau mengonsumsi kurma.
Kebijakan ini juga berlaku bagi ofisial pertandingan yang menjalankan ibadah puasa.
Profesionalisme dan Spiritualitas Berjalan Beriringan Ramadan bukan alasan untuk menepi dari panggung kompetisi. Bagi para pemain Muslim, disiplin ibadah berjalan beriringan dengan tuntutan profesionalisme. Mereka tetap berlatih, bertanding, dan menjaga performa fisik dalam atmosfer kompetisi yang keras.
Di titik ini, Liga Inggris memberi contoh bagaimana kompetisi elite bisa adaptif tanpa kehilangan standar.
Di tengah dunia sepak bola yang kerap gaduh oleh isu rasisme, diskriminasi, dan komersialisasi berlebihan, kebijakan sederhana ini menjadi pesan simbolik: ruang publik modern harus mampu mengakomodasi keberagaman keyakinan.
Bukan soal menghentikan pertandingan. Tapi soal mengakui bahwa di balik jersey dan sorotan lampu stadion, ada manusia dengan iman dan prinsip yang tetap dijaga.
Sepak bola tetap berjalan. Puasa tetap ditegakkan. Dan keduanya tak perlu dipertentangkan.
Penulis: Lukman.
Dari berbagai sumber.



