GORONTALO, mimoza.tv – Kontestasi menuju kursi Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) periode 2027 mulai menunjukkan geliatnya. Meski tahapan resmi belum sepenuhnya bergulir, atmosfer politik kampus di perguruan tinggi terbesar di Provinsi Gorontalo itu mulai menghangat.
Pemilihan pucuk pimpinan UNG mendatang dipastikan menjadi momentum strategis yang tidak sekadar soal pergantian kepemimpinan, tetapi juga pertarungan gagasan, visi akademik, hingga upaya membangun kembali soliditas internal kampus.
Pesta demokrasi kampus ini nantinya melibatkan guru besar, anggota senat universitas, hingga suara kementerian yang akan menentukan arah UNG ke depan.
Anggota Senat UNG sekaligus mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Prof. Sastro Wantu, menyebut sejumlah nama yang dinilai berpeluang besar meramaikan bursa calon rektor.
Beberapa figur yang mulai diperbincangkan antara lain Prof. Lukman Laliyo, Prof. Sukirman Rahim, Prof. Iqbal Bahua, Dr. Wawan Tolinggi, serta Wakil Rektor III saat ini, Prof. Amir Arham.
Tak hanya itu, dari kalangan akademisi perempuan, sejumlah nama juga dinilai memiliki kapasitas kuat seperti Prof. Karmila Mahmud, Dr. Yowan Tamu, dan Prof. Dian Ekawati.
“Delapan calon ini diharapkan mampu membangun kembali silaturahmi yang sempat terputus antar kelompok di UNG. Civitas akademika membutuhkan keberanian reformasi, terutama dalam perbaikan kesejahteraan seperti remunerasi,” ujar Prof. Sastro.
Menurutnya, figur pemimpin UNG ke depan harus mampu membawa semangat persatuan sekaligus melakukan reformasi internal yang nyata.
Sementara itu, mantan Rektor UNG dua periode (2010-2019), Prof. Syamsu Qamar Badu, turut memberikan pandangannya terkait sejumlah tokoh potensial.
Ia menilai Prof. Hafidz Olii sebagai sosok dengan visi akademik yang kuat dan rekam jejak kepemimpinan yang terbukti.
“Di masa kepemimpinan saya, Prof. Hafidz memimpin fakultas dengan seluruh program studi terakreditasi A. Itu capaian penting,” ungkapnya.
Selain itu, Dr. Fitri Lihawa juga disebut memiliki kapasitas mumpuni, khususnya dalam pengembangan riset kampus.
“Dr. Fitri berhasil membawa lembaga penelitian UNG melonjak dari status binaan menjadi mandiri,” tambah Prof. Syamsu.
Nama lain seperti Dr. Hidayat Koniyo juga dianggap memiliki pengalaman strategis yang relevan, sementara Prof. Lukman Laliyo kembali disebut sebagai figur muda pekerja keras dengan visi progresif.
Prof. Syamsu menyoroti keberhasilan UNG di bawah kepemimpinan Prof. Lukman saat memimpin LP2M, terutama dalam pelaksanaan KKN Kebangsaan yang menjadikan UNG sebagai model nasional.
“Prof. Lukman adalah figur visioner. UNG pernah menjadi role model pelaksanaan KKN Kebangsaan,” katanya.
Meski begitu, Prof. Syamsu mengingatkan bahwa pemilihan rektor tidak hanya soal kapasitas personal, tetapi juga faktor komunikasi politik dan kemampuan merangkul seluruh elemen kampus.
“Pemilihan rektor harus demokratis, tidak melahirkan perpecahan, dan hasilnya wajib dihormati bersama,” tegasnya.
Dengan mulai bermunculannya nama-nama potensial, Pilrek UNG 2027 diprediksi menjadi salah satu kontestasi paling menarik dalam dinamika pendidikan tinggi di Gorontalo.
Kini publik kampus menanti, siapa figur yang benar-benar mampu membawa UNG melangkah lebih progresif, reformis, dan berdaya saing nasional maupun internasional. (rls/luk)



