GORONTALO, mimoza.tv – Atmosfer Pemilihan Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) periode 2027 mulai memanas. Sejumlah nama potensial dari kalangan akademisi senior hingga figur muda visioner mulai diperbincangkan, menandai dimulainya kontestasi menuju kursi tertinggi di kampus terbesar di Provinsi Gorontalo.
Namun di balik menghangatnya bursa kandidat, pemilihan rektor di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seperti UNG bukan sekadar soal popularitas internal kampus. Prosesnya diatur melalui mekanisme nasional yang ketat, melibatkan senat universitas hingga pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Pilrek UNG dipastikan menjadi panggung strategis, bukan hanya untuk menentukan pemimpin kampus, tetapi juga arah reformasi akademik, tata kelola birokrasi, hingga kesejahteraan civitas akademika.
Anggota Senat UNG, Prof. Sastro Wantu, menyebut sejumlah figur yang mulai masuk radar calon kuat, di antaranya Prof. Lukman Laliyo, Prof. Sukirman Rahim, Prof. Iqbal Bahua, Dr. Wawan Tolinggi, Prof. Amir Arham, serta nama-nama akademisi perempuan seperti Prof. Karmila Mahmud, Dr. Yowan Tamu, dan Prof. Dian Ekawati.
“Kita membutuhkan figur yang mampu membangun kembali silaturahmi kampus sekaligus berani melakukan reformasi, terutama dalam perbaikan kesejahteraan dan remunerasi,” ujar Prof. Sastro.
Bukan Sekadar Kontestasi, Tapi Seleksi Ketat Nasional Berdasarkan regulasi nasional yang berlaku hingga 2026, calon rektor PTN wajib memenuhi sejumlah syarat utama:
Berstatus dosen PNS
Minimal berpangkat akademik Lektor Kepala
Bergelar Doktor (S3)
Berusia maksimal 60 tahun saat pelantikan
Memiliki integritas, profesionalitas, dan kapasitas kepemimpinan
Meski jabatan Guru Besar tidak selalu mutlak, figur profesor tetap memiliki nilai strategis lebih tinggi dalam pertarungan politik akademik.
Suara Menteri Jadi Faktor Penentu Mekanisme pemilihan rektor PTN dilakukan melalui rapat senat universitas, namun hasil akhirnya tidak sepenuhnya ditentukan kampus.
Komposisi suara terdiri dari:
Senat universitas: 65 persen
Menteri: 35 persen
Dengan sistem ini, komunikasi politik ke kementerian menjadi variabel penting.
Pilrek PTN bukan hanya soal dukungan internal, tetapi juga soal kemampuan menjembatani kepentingan kampus dengan kebijakan nasional.
Nama-Nama Potensial Kian Diperhitungkan Mantan Rektor UNG, Prof. Syamsu Qamar Badu, turut menilai sejumlah figur berkapasitas seperti Prof. Hafidz Olii, Dr. Fitri Lihawa, Dr. Hidayat Koniyo, hingga Prof. Lukman Laliyo.
“Pemimpin UNG ke depan harus visioner, pekerja keras, dan mampu menjaga demokrasi kampus tanpa melahirkan perpecahan,” tegas Prof. Syamsu.
Ia juga menekankan bahwa hasil pemilihan harus dihormati demi menjaga stabilitas kelembagaan.
Pertaruhan Masa Depan UNG Dengan masa jabatan rektor selama empat tahun dan maksimal dua periode, Pilrek UNG 2027 menjadi momentum penting dalam menentukan apakah kampus ini mampu melompat lebih progresif menuju daya saing nasional dan internasional.
Di tengah tantangan transformasi pendidikan tinggi, rektor baru dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga piawai dalam:
Reformasi birokrasi
Penguatan riset
Digitalisasi kampus
Kesejahteraan dosen
Jejaring nasional dan global
Pilrek UNG kali ini diprediksi bukan sekadar pergantian pemimpin, melainkan pertarungan besar antara visi perubahan dan keberlanjutan.
Kini perhatian civitas akademika tertuju pada satu pertanyaan besar:
Siapa figur yang benar-benar mampu membawa UNG melangkah lebih maju, bersatu, dan berdaya saing di level nasional?
Penulis: Lukman



