JAKARTA, mimoza.tv – Rachmat Gobel meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap perlindungan pasar dalam negeri di tengah tekanan ekonomi global yang dinilai semakin berat bagi pelaku industri nasional.
Hal itu disampaikan Gobel saat apel besar 17-an di lingkungan Panasonic Gobel Group, Jakarta, Selasa (19/5/2026), yang turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Yassierli serta ribuan karyawan perusahaan elektronik tersebut.
Dalam sambutannya, Gobel menilai Indonesia memiliki keunggulan besar karena mempunyai pasar domestik yang luas. Menurut dia, keunggulan itu seharusnya menjadi dasar pemerintah untuk memperkuat perlindungan terhadap industri nasional.
“Indonesia adalah pasar yang sangat besar. Ini adalah keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara Asia lainnya. Semestinya pemerintah lebih fokus melindungi pasar dalam negeri sebagai insentif utama bagi industri nasional,” kata Gobel.
Ia menyoroti maraknya impor ilegal yang dinilai membebani industri nasional. Tidak hanya itu, pembukaan keran impor resmi untuk sejumlah produk juga disebut semakin menambah tekanan bagi pelaku industri di dalam negeri.
Khusus untuk produk elektronik, Gobel menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah. Ia meminta agar produk yang sudah diproduksi di Indonesia tidak lagi diimpor dari luar negeri.
“Kalau barang elektronik sudah diproduksi di Indonesia, jangan diimpor lagi, Pak. Cukup itu yang saya minta,” tegasnya.
Menurut Gobel, industri tidak hanya berfungsi sebagai tempat memproduksi barang, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam kondisi normal, industri menjadi penopang kesejahteraan melalui penciptaan lapangan kerja. Namun di tengah situasi global yang tidak menentu, industri juga dinilai menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi bangsa.
Ia mengaku suaranya tersebut disampaikan untuk menjaga optimisme para pekerja dan pelaku industri nasional agar tetap bertahan menghadapi tekanan ekonomi dunia.
“Saya bersuara seperti ini bukan hanya untuk karyawan di Panasonic saja, tapi untuk seluruh pelaku industri di Tanah Air. Kita harus jaga semangat mereka agar tetap optimis dan produktif meski menghadapi tekanan global yang berat,” ujarnya.
Tradisi apel 17-an di Panasonic Gobel Group sendiri merupakan warisan budaya perusahaan yang dibangun pendiri Gobel Group, Thayeb M. Gobel. Upacara bendera digelar setiap tanggal 17 setiap bulan sebagai bagian dari penanaman nilai patriotisme, nasionalisme, serta konsolidasi budaya kerja perusahaan.
Khusus Mei tahun ini, apel digelar dalam skala besar sebagai rangkaian Bulan Hubungan Industrial Pancasila dan peringatan 70 Tahun Gobel Membangun Negeri. Kegiatan itu juga dihadiri Direktur Utama Panasonic Manufacturing Indonesia, Daniel Suhardiman, Presiden Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel, Joko Wahyudi, serta jajaran pimpinan perusahaan lainnya.
Pada kesempatan tersebut, Menaker juga meresmikan Ebu Center, pusat studi yang mendokumentasikan nilai-nilai perusahaan yang diwariskan pendiri Panasonic, Konosuke Matsushita, bersama Thayeb M. Gobel.
Matsushita dikenal dengan Filosofi Air Mengalir, sementara Gobel dikenal dengan Filosofi Pohon Pisang. Dua filosofi itu menekankan nilai kebermanfaatan dan kehidupan bagi masyarakat. (rls/luk)



