GORONTALO, mimoza.tv – Di tengah pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo yang mencapai 7,68 persen pada Triwulan I 2026, laju investasi justru menunjukkan perlambatan. Kondisi ini tercermin dari menurunnya realisasi penanaman modal serta melemahnya penyaluran kredit investasi.
Berdasarkan Laporan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo, kinerja investasi yang diukur dari akumulasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan perubahan inventori tumbuh 7,42 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan Triwulan IV 2025 yang mencapai 8,14 persen.
“Kinerja pertumbuhan investasi mengalami pertumbuhan sebesar 7,42 persen (yoy), atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 8,14 persen (yoy),” tulis KPwBI Gorontalo dalam laporannya.
Perlambatan investasi tersebut sejalan dengan menurunnya penyaluran kredit investasi oleh perbankan.
Bank Indonesia mencatat kredit investasi pada Triwulan I 2026 mengalami kontraksi sebesar 12,04 persen secara tahunan. Kondisi ini berbalik arah dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 26,44 persen.
Menurut KPwBI, perlambatan kredit investasi terutama terjadi pada sektor industri pengolahan.
“Melambatnya kinerja investasi diakibatkan oleh melambatnya kinerja kredit investasi pada sektor industri pengolahan yang hanya mengalami pertumbuhan sebesar 24,31 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 35,08 persen (yoy),” demikian laporan tersebut.
Tak hanya dari sisi pembiayaan perbankan, perlambatan juga terlihat dari realisasi investasi.
Bank Indonesia mencatat realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada Triwulan I 2026 mencapai Rp1,02 triliun atau tepatnya Rp1.015,73 miliar.
Nilai tersebut mengalami kontraksi sebesar 21,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini bahkan lebih dalam dibandingkan Triwulan IV 2025 yang terkontraksi 15,02 persen dengan nilai investasi Rp1.161,54 miliar.
Meski demikian, sejumlah sektor masih menjadi tujuan utama investasi di Gorontalo.
Untuk PMDN, investasi terbesar mengalir ke sektor Industri Logam, Mesin, dan Elektronika dengan pangsa 41,32 persen. Disusul sektor jasa lainnya sebesar 31,70 persen dan sektor pertambangan sebesar 10,49 persen.
Sementara itu, investasi asing atau PMA didominasi sektor industri makanan dengan pangsa 38,84 persen, kemudian perdagangan dan reparasi sebesar 28,84 persen, serta pertambangan sebesar 11,26 persen.
Bank Indonesia menilai peningkatan investasi pada sektor pertambangan dan industri logam tidak terlepas dari perkembangan proyek industri pengolahan emas di Kabupaten Pohuwato.
“Peningkatan investasi pada sektor pertambangan dan industri logam sejalan dengan informasi mengenai perkembangan pembangunan fasilitas industri pengolahan emas di Kabupaten Pohuwato yang saat ini tengah melakukan pengembangan fasilitas baru yakni carbon in-leach,” tulis KPwBI.
Data tersebut menunjukkan bahwa minat investasi di Gorontalo masih bertumpu pada sektor-sektor berbasis sumber daya alam dan industri pengolahan. Namun, perlambatan realisasi investasi secara keseluruhan menjadi sinyal yang perlu dicermati, mengingat investasi merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kapasitas produksi, serta menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
Ke depan, percepatan realisasi investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Gorontalo agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak hanya ditopang oleh konsumsi dan belanja pemerintah, tetapi juga oleh ekspansi dunia usaha yang berkelanjutan.
Penulis: Lukman



