Untold Story. “Cerita ini adalah karya fiksi. Namun latar sejarah dan peristiwa yang menginspirasinya adalah nyata.”
Pukul 02.13 Wita.
Ponselku bergetar di atas meja.
Nomor tak dikenal.
Aku membuka sebelah mata.
“Jam segini? Siapa pula?”
Getarannya tak berhenti.
Kuangkat juga.
“Assalamu’alaikum, Mas Luk.”
Suara perempuan.
Lembut.
Familiar.
Aku langsung terduduk.
“Wa’alaikum salam… maaf, ini siapa?”
“Aku Ay.”
“Ay siapa?”
“Tahun 2012 kita pernah ketemu di Manado.”
Aku mencoba mengingat.
Lalu mendadak terlonjak.
“Oh… Ayu?”
Terdengar tawa kecil dari seberang.
“Iya.”
Dalam hati aku langsung bergumam memakai logat Gorontalo.
“Wah… so apa olo saya ini. Artis ibu kota tiba-tiba telepon.”
“Mas Luk, minggu depan aku ke Gorontalo. Syuting acara televisi. Mau lihat hiu paus di Botubarani, Benteng Otanaha, sama makam Pak Nani Wartabone.”
“Oh…”
“Bisa rekomendasi hotel?”
Aku spontan menjawab.
“Bisa.”
“Yang bagus ya.”
“Sangat bagus.”
“Baru?”
“Baru.”
“View bagus?”
“Bagus sekali.”
“Deal.”
Telepon ditutup.
Aku kembali tidur.
Dalam hati mulai bertanya-tanya.
“Dari mana dia dapat nomor HP-ku?”
Seminggu kemudian ia benar-benar datang.
Bandara Djalaluddin ramai.
Dua mobil sudah kusiapkan.
Satu untuk kru.
Satu lagi khusus untuk Ayu.
Perjalanan menuju Kota Gorontalo dipenuhi cerita.
Tentang milu siram.
Ilabulo.
Benteng Otanaha.
Pantai Botubarani.
Dan tentu saja…
Hari Patriotik.
“Kalian di Gorontalo bangga sekali ya dengan tanggal 23 Januari.”
Aku mengangguk.
“Itu bukan sekadar tanggal.”
“Lalu?”
“Itu salah satu alasan kenapa kami masih percaya sejarah harus tetap diingat.”
Ia tersenyum.
Belum memahami maksudku.
Hotel tempat mereka menginap berdiri di tengah Kota Gorontalo.
Megah.
Tujuh belas lantai.
Lampu-lampunya memantulkan cahaya ke jalan.
Namanya…
Hotel Patriotik23.
Di sisi depannya berdiri sebuah bangunan tua.
Atapnya tetap dipertahankan.
Dinding kayunya masih asli.
Jendelanya tinggi.
Lampu-lampu kuning membuatnya tampak seperti sedang bercerita tentang tahun 1942.
Bangunan tua itu menjadi lobi sekaligus restoran hotel.
Di halaman belakang berlangsung pesta barbeque.
Alunan keroncong mengisi malam.
Beberapa tamu asing menikmati kopi.
Pelayan mengenakan pakaian tempo dulu.
Tak jauh dari pintu masuk berdiri sebuah papan kecil.
Rumah Jawatan Pos.
Malam kedua.
Syuting selesai.
Ayu menelepon.
“Mas Luk…”
“Iya.”
“Ngopi yuk.”
Aku datang.
Kami duduk berhadapan.
Di tengah meja menyala sebatang lilin.
Aroma daging panggang bercampur angin malam.
“Mas…”
“Iya?”
“Itu bangunan apa?”
Aku menoleh ke belakang.
“Rumah Jawatan Pos.”
“Oh…”
“Bagus ya.”
Aku tersenyum.
“Lebih dari bagus.”
“Maksudnya?”
Aku mengajak dia berdiri.
Masuk ke dalam bangunan tua itu.
Lantai kayunya masih berbunyi ketika diinjak.
Di dinding tergantung foto-foto hitam putih.
Gorontalo tempo dulu.
Nani Wartabone.
Pasukan rakyat.
Bendera Merah Putih.
Radio tua.
Mesin tik.
Lemari surat.
Jam dinding.
Semuanya seperti sengaja membiarkan waktu berhenti.
“Mas…”
“Iya?”
“Ini museum?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Rumah yang menolak lupa.”
Ia memandangku.
Aku melanjutkan.
“Di tempat ini, rakyat Gorontalo pernah menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar menunggu.”
Ia diam.
“Jauh sebelum Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, rakyat Gorontalo bersama Nani Wartabone telah mengambil alih pemerintahan kolonial pada 23 Januari 1942. Rumah ini dipercaya menjadi salah satu saksi sejarah peristiwa itu.”
Ia menatap foto Nani Wartabone cukup lama.
Lalu berbisik.
“Berarti rumah ini sangat penting.”
Aku mengangguk.
“Sangat.”
Kami kembali ke meja.
Pelayan menghidangkan ikan bakar.
Jagung rebus.
Kopi hitam.
Malam semakin sunyi.
Tiba-tiba Ayu bertanya.
“Mas…”
“Iya.”
“Kalau rumah ini begitu penting…”
“…kenapa baru sekarang aku tahu?”
Aku tersenyum tipis.
“Karena sejarah sering kalah populer dibanding gosip artis.”
Ia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Beberapa detik.
Lalu kembali hening.
Di meja sebelah, beberapa tamu sibuk berfoto.
Mereka tertawa.
Merekam makanan.
Mengunggah ke media sosial.
Tak seorang pun membaca keterangan di dinding.
Tak seorang pun berhenti di depan foto-foto lama.
Aku bergumam pelan.
“Mungkin memang begini nasib sejarah.”
Ayu mendengar.
“Maksudnya?”
“Kita lebih suka mengambil gambar daripada mengambil pelajaran.”
Ia tak menjawab.
Angin bertiup lebih dingin.
Lampu kota mulai redup.
Musik keroncong berganti lagu instrumental.
Ayu menatap lagi bangunan tua itu.
“Mas Luk…”
“Iya?”
“Kalau suatu hari hotel ini direnovasi…”
“…rumah ini tetap ada kan?”
Aku tidak segera menjawab.
Pertanyaan itu sederhana.
Jawabannya tidak.
Aku menyalakan sebatang rokok.
Menghisap pelan.
Asapnya melayang ke langit.
“Kamu tahu…”
“Apa?”
“Hotel bisa dibangun seratus kali.”
“Tapi?”
“Rumah yang menjadi saksi sejarah…”
“…tidak pernah bisa dibangun dua kali.”
Ia menunduk.
Malam makin larut.
Kami berdiri di depan Rumah Jawatan Pos.
Lampunya kuning.
Hangat.
Seolah sedang mengucapkan selamat tinggal kepada siapa saja yang masih mau mendengarkan ceritanya.
“Mas…”
“Iya?”
“Kalau aku datang lagi lima tahun ke depan…”
“…aku masih bisa melihat rumah ini?”
Aku memandang bangunan itu cukup lama.
Lalu menjawab lirih.
“Semoga.”
“Ayu…”
“Iya?”
“Kalau suatu hari nanti hotel benar-benar berdiri di sini…”
“…aku cuma berharap satu.”
“Apa?”
“Semoga para tamunya tahu…”
“…bahwa sebelum mereka check in, pernah ada sejarah yang check out lebih dulu.”
Ayu tak berkata apa-apa.
Ia hanya memandang Rumah Jawatan Pos.
Lama.
Sangat lama.
“Tiiit… tiiit… tiiit…”
Suara alarm ponsel membangunkanku.
Aku membuka mata.
Kamarku masih gelap.
Tak ada hotel.
Tak ada pesta barbeque.
Tak ada Ayu.
Tak ada kopi.
Aku meraih ponsel.
Di layar terpampang sebuah notifikasi berita.
Rumah Jawatan Pos Gorontalo Dibongkar.
Aku membaca judul itu berulang kali.
Entah mengapa, mimpi semalam terasa jauh lebih nyata daripada pagi ini.
Aku memandang keluar jendela.
Matahari baru saja terbit.
Lalu tanpa sadar aku bergumam sendiri.
“Seandainya saja hotel itu benar-benar dibangun seperti dalam mimpiku…”
Hotel yang tetap berdiri megah.
Hotel yang tidak menghapus rumah tua itu.
Hotel yang membiarkan sejarah menjadi lobi pertamanya.
Karena hotel bisa menjadi tempat orang bermalam.
Tetapi Rumah Jawatan Pos…
pernah menjadi tempat sebuah bangsa belajar untuk merdeka.
Dan untuk rumah seperti itu…
barangkali satu malam saja tidak pernah cukup untuk mengucapkan selamat tinggal.



