GORONTALO, mimoza.tv – Pemerintah Provinsi Gorontalo tengah mempersiapkan pelaksanaan Festival Karawo yang menjadi agenda tahunan dan melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Gorontalo. Setiap OPD turut mengalokasikan anggaran untuk menyukseskan kegiatan tersebut, mulai dari menampilkan karya sulaman Karawo hingga berbagai rangkaian acara pendukung.
Namun, di balik besarnya persiapan dan anggaran yang digelontorkan, Anggota Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, Kristina M. Udoki, yang akrab disapa Femy, mengingatkan agar Festival Karawo tidak hanya menjadi ajang seremonial tahunan atau sekadar menampilkan desain sulaman yang indah. Menurutnya, festival tersebut harus menjadi momentum untuk memperkenalkan sejarah Karawo sebagai warisan budaya asli Gorontalo kepada masyarakat.
Hal itu disampaikan Femy usai mengikuti rapat pembahasan APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026 bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) di Ruang Dulohupa DPRD Provinsi Gorontalo.
Menurut Femy, keterlibatan hampir seluruh OPD dalam Festival Karawo sudah menunjukkan besarnya komitmen pemerintah dalam mendukung pelestarian budaya daerah. Namun, ia menilai upaya tersebut akan lebih bermakna apabila dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat mengenai perjalanan sejarah Karawo dan perjuangan mempertahankan identitas budaya Gorontalo.
“Festival Karawo ini hampir melibatkan seluruh OPD. Karena itu, jangan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga harus menjadi momentum untuk mengenalkan sejarah Karawo kepada masyarakat,” ujar Femy.
Ia menjelaskan, masyarakat, terutama generasi muda, perlu mengetahui bahwa Karawo tidak hanya bernilai ekonomi melalui hasil karya para perajin, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang panjang. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui adanya perjuangan untuk melindungi Karawo dari berbagai klaim yang pernah muncul.
“Masyarakat harus mengetahui bahwa ada perjuangan untuk menyelamatkan Karawo dari berbagai klaim. Abdullah Karim bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo saat itu telah mendaftarkan hak Karawo. Langkah itu menjadi bagian penting dalam melindungi Karawo dari berbagai klaim yang pernah muncul,” katanya.
Lebih lanjut, Femy mengenang pengalamannya saat masih aktif sebagai jurnalis. Ia mengaku pernah menulis tentang perjuangan Abdullah Karim dalam memperjuangkan perlindungan Karawo sebagai kain sulaman khas Gorontalo. Saat itu, Abdullah Karim yang menjabat sebagai anggota Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo memiliki perhatian besar terhadap upaya penyelamatan Karawo dari berbagai klaim.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Femy berharap Pemerintah Provinsi Gorontalo dapat menghadirkan satu sesi khusus dalam setiap penyelenggaraan Festival Karawo yang mengulas sejarah lahirnya Karawo, proses perlindungan hak kekayaan intelektualnya, hingga peran para tokoh yang berjasa mempertahankan Karawo sebagai identitas budaya Gorontalo.
“Generasi muda jangan hanya mengenal Karawo sebagai kain sulaman yang indah. Mereka juga harus mengetahui sejarah dan perjuangan di balik Karawo hingga tetap diakui sebagai budaya asli Gorontalo. Saya berharap setiap Festival Karawo menghadirkan sesi pengenalan sejarah Karawo agar nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Femy.
Femy mengungkapkan, Karawo pernah diklaim berasal dari daerah tetangga bahkan dari luar negeri. Menurutnya, fakta sejarah tersebut harus menjadi pelajaran agar masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.
“Pernah ada yang mengklaim Karawo berasal dari daerah tetangga, bahkan ada yang menyebut dari Filipina. Padahal Karawo adalah budaya asli Gorontalo. Sejarah perjuangan itu harus terus disampaikan kepada masyarakat agar mereka memahami dan ikut menjaga warisan budaya yang kita miliki,” tutup Femy.
Ia berharap Festival Karawo ke depan tidak hanya menjadi panggung untuk memamerkan keindahan motif dan kreativitas para perajin, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya yang memperkenalkan sejarah, perjuangan, dan nilai-nilai yang terkandung di balik kain sulaman khas Gorontalo. Dengan demikian, Festival Karawo tidak hanya memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap identitas budaya Gorontalo.
(Lan/mmz03)



