GORONTALO, mimoza.TV — Bank Indonesia (BI) mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah menjadi salah satu strategi untuk memperkuat struktur ekonomi Provinsi Gorontalo.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Diseminasi Moneter dan Fiskal Triwulan II 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) dan Bappeda Provinsi Gorontalo di Ballroom Saronde Lantai 4 KPwBI Gorontalo, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan tersebut membahas perkembangan dan prospek perekonomian serta inflasi Gorontalo, kinerja fiskal daerah, hingga sejumlah isu strategis pembangunan.
Dalam wawancara usai kegiatan Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, mengatakan diskusi moneter dan fiskal kali ini secara khusus diarahkan untuk mencari strategi mendorong komoditas unggulan lokal agar tidak berhenti sebagai bahan mentah.
“Kita meyakini ini akan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi kepada komoditas lokal dan keunggulan lokal Gorontalo,” kata Bambang.
Menurutnya, sejumlah komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi antara lain jagung, kelapa, dan sapi. Di sisi lain, rencana hilirisasi ayam terintegrasi juga dinilai dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir di Gorontalo.
Bambang menyebut, berdasarkan informasi yang diterima BI, nilai investasi untuk program hilirisasi ayam terintegrasi tersebut diperkirakan mencapai Rp2,4 triliun secara keseluruhan.
“Informasi yang kami peroleh, nilai investasi untuk PSN hilirisasi ayam terintegrasi ini mencapai Rp2,4 triliun secara keseluruhan. Ini multiyears, tidak hanya tahun ini dan tahun depan, tetapi akan berlanjut,” ujarnya.
Untuk tahun ini saja, alokasi anggaran program tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 miliar.
Bagi BI, besarnya investasi tersebut bukan semata soal pembangunan fasilitas produksi. Dampak yang lebih penting adalah terbentuknya rantai ekonomi baru yang menghubungkan berbagai komoditas lokal.
Bambang mencontohkan kebutuhan pakan dalam industri peternakan ayam yang salah satu bahan bakunya adalah jagung.
Jika industri tersebut berkembang, maka jagung yang diproduksi petani Gorontalo berpeluang memiliki pasar yang lebih jelas di dalam daerah.
“Kalau sudah bicara hilirisasi ayam terintegrasi, kita mulai dari mempersiapkan DOC, mempersiapkan pakan ternaknya. Kalau sudah bicara pakan ternak, maka dia juga akan menjadi pasar bagi jagung,” jelasnya.
Dengan demikian, jagung Gorontalo tidak hanya diposisikan sebagai komoditas yang dijual keluar daerah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rantai pasok industri yang tumbuh di dalam daerah.
Rantai tersebut kemudian dapat dilanjutkan ke sektor peternakan hingga pengolahan produk ayam.
Bambang menilai, ayam yang dihasilkan nantinya tidak semestinya hanya dijual dalam bentuk daging segar. Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar.
“Bagaimana ayam yang sudah dihasilkan itu juga bisa diolah. Jadi tidak langsung dikirim hanya daging ayamnya, tetapi sudah dalam bentuk olahan dari daging ayam itu,” katanya.
Pertanian Masih Mendominasi
Dorongan hilirisasi tersebut tidak terlepas dari struktur ekonomi Gorontalo yang hingga kini masih bertumpu pada sektor pertanian.
Bambang mengatakan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Gorontalo masih berada di atas 30 persen. Meski pada triwulan I dan II 2026 mulai terlihat peningkatan pertumbuhan pada sektor pertambangan dan industri pengolahan, sektor pertanian masih menjadi penopang utama.
“Perekonomian Gorontalo saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian, lebih dari 30 persen. Memang di triwulan I dan triwulan II ada peningkatan pertumbuhan dari sektor pertambangan dan sektor produksi pengolahan, tetapi sektor pertanian masih mendominasi,” ujarnya.
Karena itu, menurut Bambang, tantangan Gorontalo bukan sekadar meningkatkan produksi pertanian, melainkan bagaimana produksi tersebut mampu menggerakkan sektor industri pengolahan.
Di sinilah hilirisasi menjadi penting.
“PR kita adalah bagaimana sektor pertanian yang punya potensi besar ini kemudian juga bisa menggerakkan industrialisasi melalui sektor industri pengolahan, melalui hilirisasi,” tegasnya.
Tidak Hanya Mengandalkan Investasi Besar
Bambang juga mengingatkan agar agenda hilirisasi tidak hanya dimaknai sebagai upaya mendatangkan investasi dalam bentuk pabrik-pabrik berskala besar.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem hilirisasi.
Menurutnya, UMKM dapat didorong untuk mengolah komoditas unggulan Gorontalo menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Hilirisasi ini tidak hanya dengan menarik investasi pabrik-pabrik besar, tetapi juga bagaimana kita bisa mendorong hilirisasi dilakukan oleh UMKM,” ujarnya.
Produk olahan tersebut, kata dia, dapat diarahkan untuk memenuhi pasar lokal, dipasarkan ke luar daerah, bahkan dikembangkan untuk kebutuhan ekspor.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar manfaat ekonomi dari komoditas unggulan tidak seluruhnya keluar dari Gorontalo.
“Bagaimana UMKM juga bisa mengolah komoditas-komoditas unggulan lokal Gorontalo sebagai olahan yang bisa dijual, baik di lokal Gorontalo, di luar Gorontalo, maupun untuk komoditas ekspor,” kata Bambang.
Diseminasi Moneter dan Fiskal Triwulan II 2026 diharapkan menjadi ruang untuk menyelaraskan kebijakan antara pemerintah daerah, otoritas fiskal, BI, dunia usaha, perbankan, hingga pelaku sektor riil.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bappeda Provinsi Gorontalo, Kepala Kanwil DJPb Gorontalo, Kepala Biro P2E Provinsi Gorontalo, BPS Provinsi Gorontalo, pimpinan perbankan, perusahaan, pelaku perhotelan, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Penulis: Lukman



