GORONTALO, mimoza.tv – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo kembali menghadirkan inovasi dalam pengembangan wastra lokal. Tahun ini, inovasi tersebut diperkenalkan melalui TENUKALA, perpaduan kain tenun Gorontalo, Karawo, dan leaf art.
TENUKALA akan menjadi salah satu karya yang ditampilkan dalam Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) 2026 di Gorontalo Convention Center, 11–13 September 2026.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, mengatakan TENUKALA merupakan pengembangan konsep wastra yang sebelumnya diperkenalkan dalam HARFEST 2025.
“Kalau di HARFEST 2025 kita memadukan kain Karawo dan eco print, maka tahun 2026 ini temanya TENUKALA. Tenu adalah kain tenun, K adalah Karawo, dan leaf art atau lukisan daun. Ini merupakan perpaduan antara kain Karawo dan tenun Gorontalo,” ujar Bambang dalam kegiatan Ngopi Bareng Insan Media (PIRAMIDA) di salah satu restoran di Kota Gorontalo, Rabu (9/9/2026).
Menurut Bambang, TENUKALA sebelumnya telah diperkenalkan dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), 20–23 Agustus 2026.
Dalam ajang tersebut, TENUKALA masuk dalam 20 besar dari lebih dari 500 wastra yang mengikuti kompetisi KKI 2026.
Bambang mengatakan, capaian tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pengembangan wastra lokal Gorontalo memiliki peluang untuk diperkenalkan di pasar yang lebih luas.
Tidak Sekadar Memadukan Kain
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Ciptoning Suryo Condro, mengatakan TENUKALA tidak hanya berbicara tentang perpaduan material kain.
Menurutnya, pengembangan produk tersebut juga berkaitan dengan identitas budaya Gorontalo dan upaya mengembangkan kembali keterampilan perajin lokal.
“Dalam TENUKALA ini bukan hanya berbicara soal produk kain. Ada identitas budaya Gorontalo di dalamnya, sekaligus bagaimana kita membuka kembali kerajinan tenun Gorontalo dan mengembangkan keterampilan para perajin lokal,” kata Ciptoning.
Ia menjelaskan, salah satu tujuan pengembangan TENUKALA adalah meningkatkan kualitas produk Karawo sehingga memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar nasional dan global.
Selama ini, kata Ciptoning, Karawo umumnya dibuat menggunakan kain yang sudah tersedia dengan pilihan jenis kain yang relatif terbatas. Melalui TENUKALA, kain tenun Gorontalo menjadi bagian dari pengembangan produk Karawo.
“Inovasi TENUKALA ini merupakan salah satu upaya kita untuk meningkatkan kualitas kain Karawo agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar nasional dan global. Jika selama ini Karawo dibuat menggunakan kain yang sudah jadi dan jenis kain yang terbatas, maka melalui TENUKALA proses pembuatan Karawo ini menghasilkan kualitas yang lebih baik,” ujarnya.
Pengembangan tersebut sekaligus membuka ruang bagi perajin untuk tidak hanya mempertahankan teknik Karawo, tetapi juga mengeksplorasi perpaduan dengan kain dan unsur seni lainnya.
Dirangkaikan dengan GKK
Selain memperkenalkan TENUKALA, HARFEST 2026 juga akan dirangkaikan dengan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) ke-13.
Sejumlah kegiatan akan digelar selama tiga hari pelaksanaan, di antaranya seminar dan berbagai perlombaan yang berkaitan dengan seni dan kerajinan.
Rangkaian HARFEST 2026 tersebut juga akan diisi dengan penampilan penyanyi nasional Yura Yunita.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, BI Gorontalo tidak hanya memperkenalkan produk wastra, tetapi juga membawa Karawo dan tenun Gorontalo ke ruang promosi yang lebih luas, dengan tetap menempatkan unsur budaya dan keterampilan perajin lokal sebagai bagian dari pengembangannya.
Penulis: Lukman



