GORONTALO, mimoza.tv – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Gorontalo mulai berdampak pada aktivitas pertanian. Tak hanya membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan air bersih, kondisi ini juga menyebabkan ratusan petani kesulitan mengolah lahan persawahan.
Sejumlah areal persawahan yang seharusnya mulai dipersiapkan untuk musim tanam kini terpaksa dibiarkan. Lahan mulai mengering karena pasokan air yang biasanya mengalir melalui saluran irigasi semakin terbatas.
Saluran irigasi yang selama ini menjadi andalan petani untuk memenuhi kebutuhan air persawahan kini tidak lagi mampu menyuplai air dalam jumlah yang cukup.
Petani belum dapat melakukan pembajakan dan persiapan penanaman karena ketersediaan air menjadi salah satu kebutuhan utama dalam proses awal musim tanam.
Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Desa Tolite, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo.
Menurut Kepala Desa Tolite, Ibrahim Makmur, puluhan hektare lahan sawah milik warga yang seharusnya sudah memasuki musim tanam hingga kini belum dapat diolah.
“Sumber air yang biasa digunakan untuk mengairi persawahan mulai mengering. Petani pun tidak memiliki pasokan air yang cukup untuk memulai pengolahan lahan,” kata Ibrahim.
Bagi petani, kondisi ini membuat aktivitas di lahan persawahan harus tertunda. Mereka kini hanya bisa menunggu hingga ketersediaan air kembali mencukupi.
Sementara itu, kemarau yang terus berlangsung juga menimbulkan kekhawatiran terhadap jadwal musim tanam.
Jika kondisi ini berlanjut, waktu tanam berpotensi semakin mundur. Penundaan tersebut dikhawatirkan berdampak pada siklus produksi dan hasil pertanian petani.
Para petani berharap pemerintah dapat segera menyiapkan langkah antisipasi, termasuk membantu memenuhi kebutuhan air untuk lahan pertanian selama kemarau berlangsung.



