GORONTALO, mimoza.tv — Tembok tinggi dan pintu besi bukan satu-satunya wajah Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Gorontalo. Di baliknya, ada hak warga binaan yang tetap harus dipenuhi, mulai dari pelayanan administrasi, kesehatan, kebutuhan dasar hingga pembinaan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.
Karena itu, Lapas Gorontalo kini menaruh perhatian pada bagaimana layanan tersebut benar-benar dapat diakses warga binaan, bukan sekadar tersedia di atas kertas.
Kalapas Kelas IIA Gorontalo Junaidi Rison mengatakan, pelayanan kepada warga binaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tugas pemasyarakatan.
“Pelayanan kepada warga binaan harus berjalan dengan baik, efektif, dan sesuai prosedur. Kami terus mendorong jajaran untuk memberikan pelayanan secara humanis, cepat, dan bertanggung jawab, sehingga hak-hak warga binaan dapat terpenuhi selama berada di Lapas,” ujar Junaidi, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, petugas tidak hanya memiliki tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban di dalam lapas. Pemenuhan hak serta pelayanan yang layak juga menjadi bagian dari tugas tersebut.
Junaidi meminta jajaran menjaga integritas dalam memberikan pelayanan dan tidak melakukan tindakan yang dapat menghambat warga binaan memperoleh haknya.
“Petugas tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memastikan warga binaan mendapatkan pelayanan dan pembinaan yang layak,” katanya.
Di sisi lain, efektivitas pelayanan juga tidak berhenti pada penyediaan fasilitas. Lapas melakukan pemantauan dan koordinasi antarpetugas untuk mengetahui kebutuhan maupun kendala yang dihadapi warga binaan.Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik, Untung Zakaria, mengatakan pihaknya membuka ruang bagi warga binaan untuk menyampaikan kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi.
“Setiap layanan terus kami pantau agar pelaksanaannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kami juga membuka ruang bagi warga binaan untuk menyampaikan kebutuhan maupun kendala yang mereka hadapi, sehingga dapat segera ditindaklanjuti,” ungkap Untung.
Layanan tersebut mencakup administrasi, pembinaan kepribadian dan kemandirian, kesehatan, kebutuhan dasar, kunjungan hingga akses informasi.
Bagi Lapas Gorontalo, seluruh layanan itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: memastikan masa pidana tidak hanya menjadi periode menjalani hukuman, tetapi juga menjadi bagian dari proses mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
Lebih lanjut Untung mengatakan, pendekatan tersebut sebelumnya juga terlihat melalui program pendidikan kesetaraan bagi warga binaan. Pada Mei 2026, Lapas Gorontalo memfasilitasi ujian Paket A dan Paket B sebagai bagian dari pemenuhan hak pendidikan.
Begitu pula dengan pembinaan kemandirian melalui kegiatan produktif. Pada September 2026, warga binaan bahkan terlibat dalam budidaya selada, timun dan melon melalui program greenhouse yang hasilnya memiliki nilai ekonomi.
Untung mengatakan, arah pembinaan tersebut ingin memastikan warga binaan memiliki bekal ketika masa pidananya berakhir.
“Lapas Gorontalo memberikan pembinaan dan pelayanan yang mendukung proses perubahan serta kesiapan warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat,” pungkasnya. (rls/luk)



