GORONTALO, Mimoza.tv – Di tengah kemarau yang memasuki bulan kelima dan mulai menekan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Gorontalo, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Muara Tirta Kota Gorontalo memastikan lima Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang dikelolanya tetap beroperasi penuh.
Tak hanya menjaga layanan air bersih bagi pelanggan, Perumda Muara Tirta juga mengambil peran dalam aksi sosial dan kemanusiaan dengan mendukung distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan, termasuk di wilayah Kabupaten Bone Bolango.
Direktur Perumda Air Minum Muara Tirta Kota Gorontalo, Lucky Paudi, mengatakan penurunan debit air Sungai Bone dan Sungai Bolango akibat musim kemarau memang menjadi tantangan. Namun, kondisi tersebut masih dapat diantisipasi melalui langkah teknis di lapangan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengerukan dan normalisasi aliran sungai menuju titik pengambilan air (intake) di lima IPA yang dikelola perusahaan daerah tersebut.
“Walaupun debit air Sungai Bone dan Bolango menurun, dengan adanya langkah teknis di lapangan, seperti pengerukan atau normalisasi aliran badan sungai ke intake, dampaknya masih bisa diatasi,” jelas Lucky.
Di tengah meningkatnya kebutuhan air selama kemarau, persoalan akses terhadap air bersih menjadi perhatian serius. Bagi warga yang sumber airnya mulai mengering, pasokan air melalui mobil tangki bukan sekadar bantuan teknis, melainkan kebutuhan mendasar untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Perumda Muara Tirta membuka dukungan pasokan air bagi sejumlah lembaga yang menjalankan misi kemanusiaan dan penanganan bencana.
Mobil tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI), misalnya, mendapatkan pasokan air dari instalasi milik Muara Tirta di Desa Tanggilingo untuk selanjutnya didistribusikan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.
Dukungan serupa juga diberikan kepada mobil tangki pemadam kebakaran yang membutuhkan air untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah berlangsung.
Lucky menegaskan, bantuan air untuk kepentingan sosial, kemanusiaan, dan penanganan kebakaran tersebut tidak diperjualbelikan.
“Intinya, bantuan air ini tidak dibisniskan kepada masyarakat yang terdampak kemarau,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pengambilan air oleh sejumlah lembaga dilakukan melalui prosedur yang berlaku, termasuk pengajuan permohonan izin pengambilan air kepada Perumda Muara Tirta.
Keterlibatan Perumda Muara Tirta dalam mendukung BPBD, PMI, dan pemadam kebakaran menunjukkan bahwa penanganan dampak kemarau membutuhkan kerja bersama lintas lembaga.
Ketika kekeringan mengancam ketersediaan air bersih, sementara kebakaran hutan dan lahan membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, keberadaan instalasi pengolahan air menjadi salah satu penopang penting dalam respons kebencanaan.
Hingga Kamis pagi, sejumlah mobil tangki milik BPBD, PMI, dan pemadam kebakaran masih terlihat melakukan pengisian air di IPA Kabila.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa kebutuhan air selama musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan pelayanan rumah tangga, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat, penanganan bencana, dan perlindungan lingkungan.
Di tengah ancaman kemarau yang belum berakhir, komitmen untuk menjaga ketersediaan air dan memastikan bantuan kemanusiaan tidak berubah menjadi transaksi komersial menjadi hal penting.
“Sebab, dalam situasi krisis, air bersih bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan keberlangsungan hidup masyarakat,” katanya.



