GORONTALO, mimoza.tv – Matahari bersinar. Bulan bercahaya. Bagi manusia hari ini, perbedaan tersebut terdengar sederhana. Sains telah menjelaskan bahwa matahari merupakan sumber cahaya, sementara bulan tampak bercahaya karena memantulkan cahaya matahari.
Namun, Al-Qur’an telah menyebut matahari dan bulan dengan istilah yang berbeda jauh sebelum manusia memiliki teleskop dan teknologi untuk mengamati benda-benda langit secara lebih mendalam.
Perbedaan itu terdapat dalam Surah Yunus ayat 5.
Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
Matahari Ḍiyā’, Bulan Nūr
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah pemilihan kata dalam ayat tersebut.
Matahari disebut ḍiyā’, sementara bulan disebut nūr.
Dalam bahasa Arab, ḍiyā’ berkaitan dengan cahaya yang memancar atau bersinar kuat. Sementara nūr memiliki makna cahaya atau sesuatu yang bercahaya.
Sejumlah ulama kemudian melihat perbedaan penyebutan ini sebagai sesuatu yang bermakna. Matahari memiliki cahaya yang berasal dari dirinya sendiri, sedangkan bulan tidak demikian.
Dalam pemahaman sains modern, hal tersebut memang sesuai dengan karakter fisik keduanya.
Matahari adalah sebuah bintang. Di bagian intinya berlangsung fusi nuklir yang menghasilkan energi dalam jumlah sangat besar. Energi itu kemudian dipancarkan ke ruang angkasa dalam berbagai bentuk radiasi, termasuk cahaya tampak yang kemudian sampai ke bumi.
Bulan berbeda.
Bulan tidak menghasilkan cahaya tampak seperti matahari. Permukaannya memantulkan sebagian cahaya matahari. Cahaya pantulan itulah yang kemudian terlihat dari bumi dan membuat bulan tampak bersinar pada malam hari.
Perbedaannya terlihat sederhana sekarang.
Tetapi manusia membutuhkan perjalanan panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan untuk memahami secara rinci bagaimana benda-benda langit tersebut menghasilkan atau memantulkan cahaya.
Bukan Sekadar Soal Cahaya
Yang menarik, Surah Yunus ayat 5 sebenarnya tidak sedang membahas astronomi secara khusus.
Ayat tersebut berbicara lebih luas tentang keteraturan ciptaan Allah.
Setelah menyebut matahari dan bulan, Allah berfirman bahwa Dia menetapkan manāzil, yakni fase atau posisi bulan, agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Artinya, pergerakan benda-benda langit bukan sesuatu yang acak.
Manusia dapat mengamati keteraturannya dan menggunakannya untuk menghitung waktu.
Matahari membantu manusia mengenali pergantian siang dan malam. Sementara perubahan fase bulan memungkinkan manusia mengenali perjalanan waktu dalam satu bulan dan menyusun sistem penanggalan.
Bahkan hingga hari ini, pergerakan benda-benda langit tetap menjadi salah satu dasar penting dalam sistem kalender dan pengukuran waktu.
Al-Qur’an dan Sains: Jangan Dibenturkan, Jangan Dipaksakan
Di sinilah ayat tersebut menjadi menarik sekaligus membutuhkan kehati-hatian.
Ketika sains modern menjelaskan bahwa matahari menghasilkan cahaya sementara bulan memantulkan cahaya matahari, tentu sangat menggoda untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan fakta ilmiah tersebut lebih dari 1.400 tahun lalu.
Namun, klaim seperti itu perlu ditempatkan secara proporsional.
Al-Qur’an bukan buku pelajaran astronomi. Tujuan utama ayat tersebut bukan memberikan uraian teknis tentang fusi nuklir, spektrum cahaya, atau sifat permukaan bulan.
Yang disampaikan Al-Qur’an adalah tanda-tanda kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.
Perbedaan kata ḍiyā’ dan nūr dapat menjadi bahan renungan yang menarik. Tetapi menjadikannya sebagai “bukti ilmiah” secara mutlak tentu membutuhkan kajian bahasa, tafsir, dan konteks ayat yang lebih mendalam.
Justru kekuatan ayat tersebut terletak pada ajakannya kepada manusia untuk mengamati, mengetahui, menghitung, dan berpikir.
Ayat itu ditutup dengan kalimat:
“Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
Seolah manusia diajak melihat alam bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan akal.
Berabad-abad Kemudian, Sains Membuka Tabirnya
Ketika Al-Qur’an diturunkan, manusia belum memiliki pengetahuan seperti sekarang tentang struktur matahari maupun mekanisme cahaya bulan.
Berabad-abad kemudian, perkembangan astronomi dan fisika membawa manusia semakin dekat untuk memahami keduanya.
Manusia mengetahui bahwa matahari adalah bintang yang menghasilkan energi melalui proses fusi nuklir. Manusia juga memahami bahwa bulan tidak memiliki sumber cahaya sendiri seperti matahari.
Namun, pengetahuan itu tidak harus diposisikan sebagai upaya “membuktikan” Al-Qur’an.
Bagi seorang Muslim, justru bisa dilihat dari sisi yang berbeda: ketika manusia semakin memahami alam, semakin banyak pula alasan untuk menyadari keteraturan ciptaan Allah.
Sebab Al-Qur’an sendiri mengatakan:
مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ
“Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar.”
Matahari yang terus memancarkan energi. Bulan yang mengelilingi bumi. Perubahan fase bulan. Pergantian siang dan malam. Semuanya berlangsung dalam keteraturan yang memungkinkan kehidupan manusia berjalan.
Dan mungkin di situlah pesan terbesarnya.
Al-Qur’an tidak sekadar menyuruh manusia melihat langit. Al-Qur’an mengajak manusia bertanya tentang siapa yang membuat keteraturan itu ada.
Sains dapat menjelaskan bagaimana cahaya matahari dihasilkan dan bagaimana cahaya tersebut dipantulkan oleh bulan.
Tetapi bagi orang beriman, pertanyaan tentang siapa yang menciptakan hukum-hukum alam sehingga semuanya berjalan begitu teratur membawa kita pada perenungan yang berbeda.
Pada akhirnya, Surah Yunus ayat 5 bukan hanya berbicara tentang matahari dan bulan.
Ia berbicara tentang ilmu, keteraturan, dan tanda-tanda kebesaran Allah bagi manusia yang mau berpikir.
Penulis: Lukman
