Beranda Kesehatan Cegah DBD Tak Cukup 3M

Cegah DBD Tak Cukup 3M

79
0
DBD (Demam Berdarah Dengue), atau yang lebih dikenal dengan demam berdarah, disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti.

Gorontalo, mimoza.tv – Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini tengah mewabah di sejumlah daerah di Indonesia. Di Provinsi Gorontalo sendiri kasus DBD yang di tularkan lewat gigitan nyamuk vektor demam berdarah dengue, Aedes aegypti dan Aedes albocpictus ini sudah mencapai angka 320.

Meski belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB), Rusli Habibie menginstruksikan warga masyarakat untuk senantiasa waspada, dengan melakukan kegiatan 3 M (Menguras, Menutup dan Mengubur). Hal ini menurutnya merupakan upaya dini mencegah berkembangnya jentik nyamuk tersebut.

Direktur Pencegahan Dan Pengendalian Tular Vektor Dan Zoonotik Kementerian Kesehatan R Vensya Sitohang, seperti di kutip dari CNN mengatakan, melakukan kegiatan 3M ternyata tidak cukup membasmi berkembangnya jentik nyamuk. Alasannya, jentik nyamuk tersebut tidak serta merta terbawa pada saat bak mandi di kuras.

“Saat bak mandi itu di kuras, seharusnya diikuti dengan menggosok dinding bak atau tempat penampungan air tersebut,” jelas Vensya.

Lanjut dia, M yang pertama adalah menguras. Tapi bukan cuma menguras melainkan menggosok dinding bak atau tempat penampungan air karena telur nyamuk dapat menempel erat di dinding bak, sehingga perlu disikat untuk dapat terbuang.

Dirinya menjelaskan, telur nyamuk yang menetas dua hari setelah menyentuh air. Sedangkan setiap harinya nyamuk bertelur sebanyak tiga kali. Meski demikian, kata dia, telur nyamuk bisa tahan di tempat kering selama enam bulan.

Lain hal juga diungkapkan Sri Rezeki Hadinegoro, guru besar Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Sri mengungkapkan, sebenarnya baiknya setiap hari dalam menguras itu.

“Tapi sayang air kan? Paling tidak sepekan sekali, itu untuk memutus siklus hidup nyamuk yang hanya berumur dua sampai tiga bulan dari telur hingga dewasa dan mati,” imbuh Sri.
Maksud Sri, pencegahan dengan menguras air tidak cukup untuk mencegah telur nyamuk tinggal bersama manusia. Tindakan menguras perlu didukung dengan menutup segala tempat penampungan air. Bila ada tempat penampungan air yang sulit dikuras, Kemenkes menganjurkan memberikan larvasida, atau racun larva serangga.

Sedangkan, mengenai tindakan mengubur barang bekas, sebenarnya dapat diikuti dengan aksi menggunakan kembali atau mendaur ulang barang yang sudah tak terpakai. Hal ini dikarenakan kemampuan terurai barang bekas di dalam tanah membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Dengan begitu, penguburan barang malah dapat menyebabkan limbah baru di masa mendatang. 

Selain mengubur, menguras, dan mendaur ulang barang, Vensya juga menganjurkan untuk menggunakan kelambu menutup tempat tidur untuk menghalangi nyamuk jenis apapun mendekat saat manusia tidur. Penggunaan obat anti nyamuk juga disarankan, namun sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 

Tindakan lainnya adalah dengan menggunakan predator biologis untuk jentik nyamuk, seperti ikan. Ikan yang dipelihara di kolam besar akan menjadi predator jentik nyamuk. 

“Dengue masih belum ada vaksinnya, masih dalam penelitian. Bahkan bukan cuma dengue, masih ada virus lain yang belum memiliki vaksin,” jelas Sri.
Dirinya menceritakan tantangan yang masih dihadapi oleh pemerintah dalam menghadapi DBD selain belum kunjung ditemukannya vaksin Dengue, yaitu vektor berupa nyamuk Aedes aegepty yang dapat hidup di mana pun di Indonesia. Tak hanya itu, partisipasi masyarakat yang masih rendah pun menjadi salah satu penyebab kasus DBD selalu datang.

“Peran serta masyarakat juga sangat dibutuhkan, ini dari masyarakat untuk masyarakat. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama memberantas penyakit, apapun itu, dalam hal ini DBD,” pungkasnya.(luk