PONOROGO, mimoza.tv – Tidak banyak anak yang sejak usia 3,5 tahun sudah tertarik belajar tari. Kevan Abyas Ingelbert Ramadhan YS salah satunya.
Siswa kelas VII SMPN 1 Ponorogo itu mengenal dunia tari sejak masih kecil. Awalnya bukan dari sanggar atau pelatih, melainkan belajar sendiri melalui YouTube dan kaset.
Dari situ, ketertarikannya terhadap tari terus tumbuh hingga akhirnya Kevan bergabung dengan Sanggar Tari Dhenata di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Di antara berbagai tarian yang dipelajarinya, Tari Klono menjadi salah satu yang paling ia sukai.
Bagi Kevan, Tari Klono bukan sekadar rangkaian gerakan. Tarian yang menjadi bagian dari kesenian Reyog Ponorogo itu menggambarkan sosok raja yang tegas dan berwibawa.
Ia juga melihat Tari Klono memiliki karakter gerakan yang berbeda dibandingkan tarian lainnya. Hal itulah yang membuatnya semakin tertarik untuk mendalaminya.
Untuk menjaga kemampuannya, Kevan berlatih tiga hingga enam kali dalam sepekan. Latihan biasanya dilakukan pada malam hari, setelah urusan sekolah dan tugas-tugasnya selesai.
Jadwal itu membuatnya harus pintar membagi waktu. Baginya, sekolah tetap menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan meski latihan tari cukup menyita waktu.
Kesempatan tampil di luar negeri datang setelah Kevan mengikuti Jateng Got Talent. Informasi mengenai audisi itu ia dapatkan melalui Instagram.
Ia kemudian mengikuti proses seleksi secara daring dan luring. Hasilnya, Kevan berhasil menjadi juara pertama atau winner kategori junior.
Prestasi tersebut kemudian membawanya ke kesempatan yang lebih besar. Ia mendapat kesempatan tampil dan kembali berkompetisi di Malaysia dalam Global Heritage Youth Forum yang digelar di KLCC, bekerja sama dengan International Tourism Arts and Culture (INTAC) 2026.
Ajang yang diselenggarakan Alo Foundation itu diikuti para finalis dari sejumlah negara.
Kevan mengaku senang ketika mengetahui dirinya mendapat kesempatan tampil di Malaysia. Namun, ia sadar bahwa panggung tersebut bukan lagi kompetisi biasa.
“Pasti senang, tetapi harus tetap tenang karena di Malaysia lawannya tentu finalis terbaik juga dari beberapa negara,” kata Kevan.

Di panggung Malaysia, Kevan akhirnya meraih juara ketiga Talent Show Junior.
Bagi Kevan, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan belajarnya. Ia tidak ingin berhenti hanya karena sudah mendapatkan prestasi.
Cita-citanya sederhana. Ia ingin terus menjadi penari yang lebih baik, membanggakan orang tua, sekaligus membawa nama Indonesia melalui seni yang ia tekuni.

“Saya ingin menjadi seorang penari yang lebih baik, bisa membanggakan orang tua dan membawa harum nama bangsa,” ujarnya.
Di tengah anak-anak seusianya yang semakin akrab dengan berbagai budaya populer, Kevan memilih tetap dekat dengan kesenian daerah.
Menurut dia, ketertarikan terhadap budaya luar bukan alasan untuk meninggalkan tradisi sendiri. Justru generasi muda perlu mengenal kesenian dari daerah asalnya.
“Anak remaja sekarang lebih tertarik kepada tarian ala Barat, sedangkan kita hidup dengan tradisi, adat, dan budaya daerah asal,” katanya.
Perjalanan Kevan mungkin bermula dari layar YouTube dan latihan sederhana. Namun dari sana, Tari Klono yang dipelajarinya membawanya melangkah jauh, bahkan sampai ke panggung Malaysia.
Penulis: Lukman



