Beranda Kabar Daerah Diduga Tertular Antraks, Dinkes Hewan Lakukan Uji Sampel

Diduga Tertular Antraks, Dinkes Hewan Lakukan Uji Sampel

84
0
Foto ilustrasi ternak kambing. Foto: Istimewa.

Gorontalo, mimoza.tv – Dinas Kesehatan Hewan Provinsi dan Kabupaten Gorontalo, saat ini tengah melakukan pengambilan sampel tanah yang diduga menjadi lokasi bakteri Antraks, di Desa bakti, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.

Vivi Tayeb, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas kesehatan Hewan Kabupaten Gorontalo. Foto: Lukman Polimengo.

Vivi Tayeb selaku Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas kesehatan Hewan Kabupaten Gorontalo, kepada sejumlah awak media mengungkapkan, pengambilan sampel ini sebagai upaya membuktikan apakah benar ternak kambing tersebut diserang bakteri Bacillus Anthracis.

Vivi menjelaskan, jika pengambilan sampel tanah ini dilakukan karena pihaknya tidak bisa melakukan pengambilan sampel bangkai hewan tersebut. Kata dia, untuk melakukan uji itu, pihaknya akan mengirim sampel tanah ke Balai Besar Penelitian Veterine BBPV) Maros, karena fasilitas pengujian itu belum ada di Provinsi Gorontalo.

“Jadi nantinya bukan hanya pihak kita saja yang akan melakukan uji sampel. BBPV Maros, Sulawesi Selatan juga nantinya akan mendatangi dan melakukan pengecekan di lokasi tersebut,” kata Vivi kepada sejumlah awak media.

Baca juga: Konsumsi Daging Kambing, 3 Warga Gorontalo Diduga Terjangkit Antraks

Kasus Antraks pada ternak kambing kata dia merupakan yang pertama kali di Kabupaten Gorontalo.

“Kalau kasus Antraks sebelumnya hanya terjadi pada hewan ternak sapi,”

Dalam kesempatan itu juga dirinya berpesan kepada warga yang mempunyai hewan ternak, agar mengkandangkan ternaknya. Hal ini kata Vivi untuk memudahkan petugas untuk melakukan pemantauan.

“Bagi wilayah endemis yang belum kami sempat lakukan vaksinasi, agar segera melapor ke Dinas Kesehatan Hewan, untuk kita lakukan vaksinasi, disamping jadwal vaksinasi yang sering kami lakukan,” terang Vivi.

Untuk wilayah kasus, Vivi juga berharap tidak ada lalulintas ternak. Ternak yang ada di wilayah kasus jangan dipindahkan ke lokasi yang tidak endemis, karena hal itu sangat berbahaya.

“Bahan makanan, kandang, tanah yang tercemar tidak bisa berpindah dari lokasi kasus ke lokasi yang tidak ada kasus,” pungkasnya.(luk)