GORONTALO, mimoza.tv – Provinsi Gorontalo mulai menghadapi perubahan struktur penduduk yang cukup serius. Di tengah pertumbuhan jumlah penduduk yang masih berlangsung, angka kelahiran justru terus menurun, sementara jumlah penduduk lanjut usia semakin meningkat.
Data hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo memperlihatkan tren penurunan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) dalam 15 tahun terakhir.
Pada SP2010, angka TFR Gorontalo tercatat sebesar 2,76. Angka itu turun menjadi 2,30 pada Long Form SP2020 dan kembali turun menjadi 2,24 berdasarkan SUPAS 2025.
Artinya, rata-rata perempuan di Gorontalo kini melahirkan sekitar dua anak selama masa reproduksinya.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, Dr. Wathekhi, menyebut penurunan angka kelahiran ini menunjukkan perubahan pola demografi masyarakat Gorontalo.
Menurutnya, perubahan tersebut dipengaruhi berbagai faktor sosial, mulai dari pendewasaan usia kawin hingga perubahan pola hidup masyarakat perkotaan.
Data BPS juga menunjukkan penurunan paling mencolok terjadi pada kelompok usia 15–19 tahun.
Angka fertilitas remaja turun dari 62 pada SP2010 menjadi 35,92 berdasarkan SUPAS 2025.
“Penurunan fertilitas remaja didorong pendewasaan usia kawin perempuan,” ujar Wathekhi dalam catatan rilis BPS.
Fenomena ini dinilai sebagai indikator sosial yang cukup positif. Sebab di banyak daerah, tingginya angka kelahiran usia remaja sering berkaitan dengan persoalan kemiskinan, putus sekolah, hingga tingginya risiko kesehatan ibu dan anak.
Selain itu, peta TFR kabupaten dan kota menunjukkan pola yang mulai mengarah pada perubahan karakter sosial antara wilayah urban dan rural.
Kota Gorontalo tercatat memiliki angka TFR terendah yakni 2,13, sedangkan Gorontalo Utara menjadi yang tertinggi dengan angka 2,41.
Kondisi tersebut memperlihatkan wilayah perkotaan mulai bergerak ke pola keluarga yang lebih kecil.
Faktor biaya hidup, pendidikan, keterlibatan perempuan dalam dunia kerja, hingga perubahan orientasi keluarga diduga mulai memengaruhi pola reproduksi masyarakat perkotaan.
Sementara wilayah yang lebih rural masih mempertahankan pola keluarga dengan jumlah anak relatif lebih besar.
Di sisi lain, penurunan angka kelahiran ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Gorontalo.
SUPAS 2025 mencatat persentase lansia di Gorontalo telah mencapai 10,48 persen. Angka itu menandakan Gorontalo mulai memasuki fase ageing population atau penuaan penduduk.
Fenomena ini memunculkan tantangan baru bagi daerah. Sebab ketika jumlah lansia meningkat, kebutuhan layanan kesehatan, perlindungan sosial, hingga beban ekonomi keluarga juga ikut bertambah.
Sementara struktur ekonomi Gorontalo hingga kini masih sangat bertumpu pada sektor primer dan konsumsi rumah tangga.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Gorontalo sedang bergerak menuju fase transisi demografi sebelum fondasi ekonomi industrial benar-benar kuat.
Dalam kajian ekonomi kependudukan, kondisi seperti ini sering disebut sebagai “growing old before growing rich”, yakni situasi ketika populasi mulai menua sebelum ekonomi cukup mapan menopang kebutuhan sosial jangka panjang.
Padahal saat ini bonus demografi Gorontalo sebenarnya masih tersedia. Generasi Z dan milenial masih mendominasi struktur penduduk daerah.
Namun para pengamat menilai jendela bonus demografi tidak akan berlangsung selamanya.
Jika kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, hilirisasi ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja produktif tidak bergerak cepat, maka pertumbuhan penduduk usia produktif berisiko tidak memberi dampak maksimal terhadap kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, data TFR dan struktur penduduk SUPAS 2025 tidak hanya menjadi statistik kependudukan semata, tetapi juga menjadi sinyal awal tentang arah sosial dan ekonomi Gorontalo dalam satu hingga dua dekade ke depan.
Penulis: Lukman



