Beranda Kesehatan Khasiat Tanaman Polohungo Bagi Penderita Sifilis

Khasiat Tanaman Polohungo Bagi Penderita Sifilis

103
0
Tanaman Purin, atau orang Gorontalo menyebutnya Polohungo. Foto: Istimewa

Gorontalo, mimoza.tv – Di Gorontalo orang menyebutnya Polohungo. Tanaman yang dapat di jumpai di pekarangan, kuburan, maupun salah satu bahan yang digunakan dalam ritual adat Tonthalo (ritual adat bagi perempuan yang usia kehamilannya tujuh bulan).

Namun ternyata Polohungo atau tanaman Pirin ini, sejak puluhan tahun silam digunakan sebagai obat tradisional di daerah Pacifik selatan (Kepulauan Fiji, Hawai, Papua Nugini). Tanaman dengan nama ilmiahnya Codiaeum variegatum ini, sudah sejak lama digunakan di Bangladesh. Tanaman ini dimanfaatkan untuk mengatasi demam, flu, penyakit kulit, diare, yang disebabkan oleh entamoeba histolyca, hingga penyakit menular seksual Gonone dan Sifilis.

Seperti dikutip dari situs Useful Tropical P)lants, tropical theferns .info, menyebutkan daun purin memilki khasiat aborsi, antimoeba, antibakteri, antikanker, antijamur, antioksidan, memperlancar menstruasi, pencahar serta sedatif.

Rebusan daun Polohungo ini juga digunakan untuk mengobati diare. Jus daunnya digunakan untuk merangsang aliran menstruasi. Getah daunnya untuk mengobati gigitan ular. Getah daunnya di campur dengan santan, digunakan dalam pengobatan sifilis.

Daun muda di campur dengan Pandanus macroieacceretia, santan dan getah akar Areca catechu, digunakan dalam mengobati Gonone.

Cairan hijau dari rebusan daun Polohungo digunakan sebagai obat demam. Sedangkan getah dari daun atau kulit kayunya digunakan untuk mengobati luka dan infeksi luka dan infeksi jamur.

Untuk rebusan akar tanaman Polohungo ini, digunakan dalam pengobatan lambung. Akarnya, dicampur dengan buah pinang, dimanfaatkan untuk obat sakit perut dan obat sementara sakit gigi.

Penelitian telah menunjukan daun dan tunas tanaman Polohungo jiga kaya akan Alkoloid, Cardilac Glycoside, Saponin, Tanin, Cardenolides, Flavonoid, Steroid, dan Phyllates.

Dalam sebuah studi penelitian terhadap 55 tanaman obat tradisional di Kamerun, hanya ekstrak daun spesies ini yang menunjukan aktivitas antiamoeba yang lebih jelas daripada pengobatan konvensional metronidazole, yang banyak diresepkan di beberapa negara termasuk Indonesia.(luk)