GORONTALO, mimoza.tv — Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Gorontalo pada September 2026 tercatat 144,38, meningkat 10,89 persen dibandingkan Agustus yang berada pada angka 130,20.
Kenaikan tersebut menjadi catatan penting dalam perkembangan indikator pertanian Gorontalo. Namun, jika dilihat lebih rinci, pergerakan NTP tidak terjadi secara seragam pada seluruh subsektor.
Data yang di rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Kamis (1/10/2026) menunjukkan, kenaikan paling mencolok terjadi pada subsektor hortikultura. NTP subsektor ini mencapai 485,21 pada September, meningkat 22,93 persen dibandingkan Agustus yang berada di angka 394,70. Sementara itu, empat subsektor lainnya justru mencatat penurunan.
NTP tanaman pangan turun 0,07 persen menjadi 121,41. Subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 5,27 persen menjadi 130,58.
Penurunan juga terjadi pada subsektor peternakan yang berada di angka 107,46 atau turun 4,54 persen. Sementara NTP perikanan turun 0,86 persen menjadi 114,81.
Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan NTP Gorontalo pada September tidak berlangsung dengan pola yang sama pada seluruh subsektor pertanian.
Kondisi ini menjadi menarik karena angka NTP provinsi mengalami kenaikan cukup besar, sementara sebagian besar subsektor yang membentuk sektor pertanian justru bergerak turun.
Namun, perbedaan tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai kenaikan atau penurunan penghasilan petani pada masing-masing subsektor. NTP merupakan indikator yang menggambarkan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani.
Karena itu, perubahan NTP perlu dibaca bersama komponen pembentuknya, terutama perkembangan harga yang diterima petani dan harga yang harus dibayar untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga.
Data September 2026 setidaknya menunjukkan satu hal: di balik kenaikan NTP Gorontalo menjadi 144,38, terdapat dinamika yang berbeda antarsubsektor.
Lonjakan pada hortikultura menjadi bagian penting dari perubahan tersebut, sementara tanaman pangan, perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan menunjukkan arah sebaliknya.
Dengan demikian, angka NTP secara agregat belum cukup untuk menggambarkan seluruh dinamika sektor pertanian Gorontalo. Perubahan harga komoditas dan biaya yang dihadapi petani pada masing-masing subsektor tetap menjadi bagian penting untuk melihat apa yang terjadi di lapangan.
Penulis: Lukman



