GORONTALO. Mimoza.tv – Persoalan sampah di Kota Gorontalo tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA). Dibutuhkan pengelolaan yang lebih serius agar sampah tidak terus menumpuk dan menjadi ancaman bagi lingkungan.
Salah satu solusi yang mulai menunjukkan hasil adalah pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos di Rumah Kompos Tanjung Keramat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Gorontalo.
Di fasilitas ini, sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai justru diolah menjadi produk yang memiliki manfaat bagi lingkungan dan sektor pertanian.
Ketua sekaligus Pengawas Rumah Kompos Tanjung Keramat, Walid M. Ali, menjelaskan bahwa sampah yang masuk melalui kontainer tidak langsung diproses. Terlebih dahulu dilakukan pemilahan untuk memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu.
Sampah organik kemudian dibawa ke bak penampungan untuk menjalani proses fermentasi. Dalam tahapan tersebut, sampah dicampur menggunakan obat M4 untuk membantu menghilangkan bau, sebelum diproses menggunakan mesin pencacah dan mesin pengayak hingga menghasilkan pupuk kompos.
“Kompos kami merupakan kompos yang terbuat dari murni sampah organik,” kata Walid.
Berdasarkan data Rumah Kompos Tanjung Keramat, volume sampah yang masuk melalui kontainer rata-rata mencapai 4 kubik. Jika diakumulasikan, jumlahnya sekitar 16 kubik setiap bulan atau mencapai 192 kubik dalam setahun.
Sementara itu, rata-rata sampah yang dikelola setiap hari mencapai 0,526 kubik atau sekitar 526 kilogram, berdasarkan keterangan yang disampaikan pengelola.
Dari keseluruhan sampah yang masuk, komposisi sampah organik tercatat mencapai 79 persen, anorganik 3 persen, dan residu 14 persen.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya potensi sampah organik yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan, bukan sekadar dibuang dan menjadi beban TPA.
Bahkan, dalam kurun waktu Juni hingga Desember 2025, Rumah Kompos Tanjung Keramat berhasil memproduksi pupuk kompos sebanyak 2.810 kilogram atau sekitar 2,8 ton.
Capaian ini menjadi bukti bahwa pengolahan sampah dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai guna. Namun, produksi kompos tersebut juga menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah membutuhkan sistem yang konsisten, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan di fasilitas yang tersedia.
Sebab, tanpa kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya, proses pengolahan akan semakin sulit dan beban pengelolaan sampah tetap bertumpu pada fasilitas pengangkutan dan TPA.
Di sisi lain, pengolahan sampah organik menjadi kompos memiliki manfaat lingkungan yang cukup besar. Selain mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, langkah ini juga dapat menekan pembentukan gas metana dari sampah organik yang membusuk dalam kondisi minim oksigen.
Pupuk kompos yang dihasilkan pun dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah, menambah unsur hara, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan kelembapan air.
Diketahui, Rumah Kompos Tanjung Keramat merupakan satu-satunya fasilitas rumah kompos yang ada di Gorontalo.



